Siswa Diniyah Athfal Ponpes Shidiqiin Wara`

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Niat dari Pendiri dan Pengasuh adalah Jihad

Melalui PP Shidiqiin Wara`Pendiri dan Pengasuh PPSW berniat Jihad di Jalan Allah meninggikan Kalimat Allah.

Halangan dan Tantanga Dakwah PP Shidiqiin Wara` 3

Setiap Halangan dan Tantangan dilalui dengan Sabar sehingga PPSW berjalan puluhan tahun.

Kyai Muhammad Syechan Pendiri PP Shidiqiin Wara`

Tenaga.Pikiran dan Harta untuk Dakwah di Lingungan Purwojati Melalui PP Shidiqiin Wara`.

Pager Bangsa-Pengajian Gerakan Kebangsaan 5

Pager Bangsa diadakan pertama kali untuk anggota Pemuda Pakarti Purwojati dalam ikut membangun NKRI.

Tampilkan postingan dengan label Kitab Kuning. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kitab Kuning. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Desember 2014

Pengertian Kitab Kuning

Pengertian Kitab Kuning
Kitab kuning adalah sebuah istilah yang disematkan kepada kitab-kitab yang berbahasa Arab, yang biasa digunakan oleh beberapa pesantren atau madrasah Diniyah sebagai bahan pelajaran. Dinamakan kitab kuning karena kertasnya berwarna kuning

Sebenarnya warna kuning itu hanya suatu kebetulan saja, lantaran zaman dahulu barang kali belum ada jenis kertas seperti zaman sekarang yang putih warnanya. Mungkin di masa lalu yang tersedia memang itu saja. Juga dicetak dengan alat cetak sederhana, dengan tata letak dan lay-out yang monoton, kaku dan cenderung kurang nyaman dibaca. Bahkan kitab-kitab itu seringkali tidak dijilid, melainkan hanya dilipat saja dan diberi cover dengan kertas yang lebih tebal (kurasan)

Kitab baru yang sudah masuk dalam kategori kitab kuning contohnya "Fiqhul Islam" terbitan 1995. Sedangkan kitab kuning tulisan ulama Indonesia di antaranya kitab "Sirojul Tholibbin". Kitab yang memperjelas kitab "Minhajul Abidin" karya Imam al-Ghazali itu ditulis Syaikh Ikhsan dari Pondok Pesantren Jampes, Kediri. "Sirojul Tholibbin" hingga kini menjadi bacaan wajib di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Contoh kitab kuning dari ulama Indonesia lainnya adalah kitab "Sullamut Taufiq" karya Imam Nawawi dari Banten, yang bertarikh 1358 (Majalah Tempo Interaktif, 2009).

Istilah kitab kuning  bertujuan untuk memudahkan orang dalam menyebut. Sebutan “kitab kuning” ini adalah ciri khas Indonesia. Ada juga yang menyebutnya, “kitab gundul”. Ini karena disandarkan pada kata per kata dalam kitab yang tidak berharakat, bahkan tidak ada tanda baca dan maknanya sama sekali. Tidak seperti layaknya kitab-kitab sekarang yang sudah banyak diberi makna dan harakat sampai catatan pinggirnya

Sudah menjadi karakteristik, kitab-kitab Islam yang ditulis dengan aksara Arab atau Arab Melayu memakai kertas berwarna kuning. Istilah kitab kuning sudah melekat untuk menamai kitab-kitab keislaman tersebut. 

Ada juga yang menamainya dengan kitab gundul karena tulisannya yang merupakan aksara Arab tersebut tidak memiliki harakat atau syakl (tanda baca).

Kertas berwarna kuning merupakan jenis kertas dengan kualitas yang paling rendah dan murah. Bahkan, tak jarang ditemui pada kitab-kitab kuning tersebut lembarannya tak terjilid sehingga mudah diambil bagian-bagian yang diperlukan tanpa harus membawa satu kitab secara utuh.

Karena, kitab-kitab tersebut biasanya hanya beredar di kalangan pesantren, tak jarang para santri hanya membawa lembaran-lembaran tertentu yang akan dipelajari. Itulah mungkin alasan mengapa kitab tersebut tidak dijilid layaknya buku-buku biasa.

Umumnya, kitab kuning ditulis tidak memiliki paragraf yang bisa mengatur alinea demi alinea. Biasanya, seluruh kitab ditulis secara bersambung dari awal hingga akhir buku.

Dari penampilan fisiknya, kini kitab kuning tidak mudah lagi dibedakan dari kitab-kitab baru yang biasanya disebut al-kutub al-‘asriyyah (buku-buku modern). Kini, perbedaannya terletak pada isi, sistematika, metodologi, bahasa, dan pengarangnya.

Timur Tengah sebagai daerah asalnya, kitab kuning disebut dengan al-Kutub al-Qadimah (buku-buku klasik) sebagai sandingan dan al-Kutub al-'asriyyah. 

Al-Kutub al-Qadimah yang beredar di Indonesia (di kalangan pesantren) sangat terbatas jenis dan jumlahnya. Yang sangat dikenal adalah kitab-kitab yang berisi ilmu-ilmu syariat, khususnya ilmu fikih. 

Ilmu-ilmu syariat lainnya adalah tasawuf, tafsir, hadis, akidah, dan tarikh. Sedangkan, dari khazanah keilmuan nonsyariat, yang banyak dikenal ialah kitab-kitab nahwu dan sharaf (tata bahasa Arab) yang mutlak diperlukan sebagai ilmu alat untuk membaca kitab gundul.

Dilihat dari ciri-ciri umum kitab kuning, penyajian setiap materi dari satu pokok bahasan selalu diawali dengan mengemukakan definisi yang tajam.
Definisi tersebut memberi batasan pengertian secara jelas untuk menghindari salah pengertian terhadap masaiah yang sedang dibahas.

Selanjutnya, setiap materi bahasan diuraikan unsur-unsurnya dengan segala syarat yang berkaitan dengan objek pembebasan. Pada tingkat syarfr (ulasan komentar) dijelaskan pula argumentasi penulisnya lengkap dengan penunjukan sumber hukumnya.

Selain itu, jika dilihat dari kandungan maknanya, kitab kuning dapat dikelompokkan menjadi dua macam. Pertama, kitab kuning yang berbentuk penawaran atau penyajian ilmu secara polos (naratif), seperti sejarah, hadis, tafsir, dan lain-lainnya. 

Kedua, kitab kuning yang menyampaikan materi berbentuk kaidah-kaidah keilmuan, seperti usul fikih dan mustalah hadis (istilah-istilah yang berkenaan dengan hadis) dan semacamnya.

Sementara, dilihat dari kreativitas penulisannya, kitab kuning dapat dikategorikan menjadi tujuh macam. Pertama, kitab kuning yang menampilkan gagasan baru yang belum pemah dikemukakan oleh penulis-penulis sebelumnya, seperti kitab Ar-Risalah (tentang usul fikih) karya Imam asy-Syaft'i. 

Sabtu, 09 November 2013

75 orang Guru Madin Takmiliyah Belajar Metodologi Cara Cepat Membaca Kitab Kuning ke Jepara

Bekasi (Pendis) - Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ditjen Pendidikan Islam, akan mengirim 75 orang guru Madrasah Diniyah Takmiliyah dari perwakilan beberapa provinsi se-Indonesia ke Pondok Pesantren al Falah Jepara Jawa Tengah. Ke-75 orang tersebut akan mondok selama sebulan penuh dalam rangka meningkatkan kompetensinya mengakses sumber ajar kitab kuning (al-kutub alturats).


Guru Madrasah Diniyah Takmiliyah tersebut akan memperdalam kemampuan membaca kitab-kitab berbahasa Arab yang sering disebut kitab gundul atau kitab kuning dengan menggunakan Metode Amtsilati. Metode ini merupakan metode hasil ciptaan dan kreasi KH. Luqman Hakim, pengasuh pesantren Al-Falah.


Di bawah bimbingan KH. Luqman Hakim ini, selain mereka belajar kitab kuning di pesantren juga mereka mempelajari teknik, strategi dan metode pembelajaran Amtsilati langsung dari penulisnya. Diharapkan mereka dapat menerapkan metode pembelajarannya kelak di Madrasah Diniyahnya masing masing. Sehingga upaya meningkatkan mutu pembelajaran kitab keagamaan di Madin segera dapat dipercepat.


Para guru Madin tersebut di lepas oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok pesantren, Drs. Ace Saefuddin,M.A pada 31/10/2013 dari Bekasi. Tidak lupa Saifuddin berpesan kepada para guru Madin agar benar-benar memanfaatkan kegiatan ini untuk meningkatkan kualitas layanan yang bermutu dalam proses pendidikan Madrasah Diniyah Takmiliyah.


Lebih lanjut dikatakan: "Tradisi penguasaan mengakses kitab kuning yang da di pondok pesantren penting dihidupkan di lingkungan Madrasah Diniyah karena Madrasah Diniyah Takmiliyah sejatinya merupakan anak kandung dari pesantren". Program ini sebagai upaya untuk memperkuat tafaqquh fiddin dikalangan guru Madrasah Diniyah.


"Guru Diniyah juga harus merasa tertantang untuk menciptakan kreasi inovasi lain dalam penguasaan kitab kuning yang cocok dan sesuai dengan suasana pendidikan Madrasah Diniyah Takmiliyah" demikian harapannya.


Kegiatan pembekalan yang dilaksanakan oleh Subdit Madrasah Diniyah Takmiliyah ini merupakan kegiatan lanjutan dari kegiatan penguatan tradisi kitab kuning di lingkungan Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam yang dicanangkan oleh Direktoran Pendidikan Diniyah Dan Pondok Pesantren.


Sementara itu Kasubdit Diniyah Takmiliyah Dr. Mamat S. Burhanuddin, di sela-sela acara pembekalan tersebut mengatakan bahwa: "para guru akan mendapat tugas untuk membentuk semacam Kelompok Kerja Guru Madrasah Diniyah Takmiliyah (KKG-MDT) selepas mereka mondok di Al-Falah untuk mendesiminasikan keterampilan dan kemampuan baca kitab kuning kepada kolega guru lainya di masing masing daerahnya".


Lebih lanjut disampaikan bahwa program penguatan pembelajaran kitab kuning akan ditingkatkan terus menerus dalam rangka mengembalikan ruh Madrasah Diniyah yang selama ini telah dirasakan manfaatnya dikalangan masyarakat.
(Ruchman Basori/ra)

DUKUNG PENDIRIAN MARKAS YGNI BANYUMAS-PROGRESS REPORT: DANA TERKUMPUL 25,6 JUTA DARI 350 JUTA-SELURUH DANA DARI BP_MAKMUR

Logo Baru YGNI Banyumas

Logo Baru YGNI Banyumas
Perubahan Logo Baru YGNI Banyumas