Siswa Diniyah Athfal Ponpes Shidiqiin Wara`

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Niat dari Pendiri dan Pengasuh adalah Jihad

Melalui PP Shidiqiin Wara`Pendiri dan Pengasuh PPSW berniat Jihad di Jalan Allah meninggikan Kalimat Allah.

Halangan dan Tantanga Dakwah PP Shidiqiin Wara` 3

Setiap Halangan dan Tantangan dilalui dengan Sabar sehingga PPSW berjalan puluhan tahun.

Kyai Muhammad Syechan Pendiri PP Shidiqiin Wara`

Tenaga.Pikiran dan Harta untuk Dakwah di Lingungan Purwojati Melalui PP Shidiqiin Wara`.

Pager Bangsa-Pengajian Gerakan Kebangsaan 5

Pager Bangsa diadakan pertama kali untuk anggota Pemuda Pakarti Purwojati dalam ikut membangun NKRI.

Tampilkan postingan dengan label Khazanah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khazanah Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Maret 2016

Pembiayaan Mikro BRI Syariah

PP. Shidiqiin Wara`  Pembiayaan Mikro
Produk Pembiayaan
Produk
Plafond (juta)
Tenor
Mikro 25iB
5-25
6-36
Mikro 75iB
5-75
6-60*
Mikro 500iB
>75-500
6-60*
*Tenor dapat hingga 60 bulan dengan ketentuan khusus
Persyaratan Dokumen (Umum)
Produk
Mikro 25iB
Mikro 75iB
Mikro 500iB
FC KTP Calon Nasabah & Pasangan
v
v
v
Kartu Keluarga & Akta Nikah
v
v
v
Akta Cerai / Surat Kematian (Pasangan)
v
v
v
Surat Izin Usaha / Surat Keterangan Usaha
v
v
v
Persyaratan Dokumen (Khusus)
Produk
Mikro 25iB
Mikro 75iB
Mikro 500iB
Jaminan *
x
v
v
NPWP **
x
v
v
*Tanah dan Bangunan, Tanah Kosong, Kendaraan, Kios atau Deposito
**Untuk pembiayaan di atas 50juta
Persyaratan Umum
  1. Warga Negara Indonesia dan berdomisili di Indonesia
  2. Usia minimal 21 tahun/telah menikah untuk usia diatas >18 tahun
  3. Wiraswasta yang usahanya sesuai prinsip syariah
  4. Lama usaha calon nasabah :
    • Untuk Mikro 75iB dan Mikro 500iB, lama usaha minimal 2 tahun
    • Untuk Mikro 25iB, lama usahaa minimal 3 tahun
  5. Tujuan pembiayaan untuk kebutuhan modal kerja atau investasi
  6. Memiliki usaha tetap
  7. Jaminan atas nama milik sendiri atau pasangan atau orang tua atau anak kandung
  8. Biaya administrasi mengikuti syarat dan ketentuan yang berlaku

Jumat, 11 Maret 2016

Urutan Khilafah Dalam Sejarah Islam

PP. Shidiqiin Wara` Purwojati.  Urutan Khilafah Dalam Sejarah Islam


Dengan wafatnya Rasulullah SAW pada tahun 623 M, umat Islam segera membaiat Abu Bakar ra sebagai pengganti beliau. Istilah pengganti ini dalam bahasa Arab adalah khalifah. Lengkapnya, khalifatu rasulillah atau pengganti Rasulullah. Maksudnya bukan menggantikan posisi kenabian Muhammad SAW, melainkan posisi beliau SAW sebagai pemimpin tertinggi umat Islam. Sebab nabi kita itu selain sebagi nabi, juga berperan sebagai pemimpin tertinggi umat Islam. Selain itu, ada juga sebutan lain buat posisi tertinggi umat Islam sedunia, yaitu istilah Amirul Mukminin. Artinya adalah pemimpin umat Islam.

Secara garis besar kita dapat membagi periode sejarah kepemimpinan Islam ke dalam lima periode utama berdasarkan sebuah Hadits Shahih Nabi riwayat Imam Ahmad.
تَكُوْنُ النُّبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَاءَ ا للهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ اَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا عَاضًا ، فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ  أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا جَبَّرِيًّا ، فَتَكُوْنَ مَا شَاءَ اللهُ  أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، ثُمَّ سَكَتَ
“Periode  an-Nubuwwah (kenabian) akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang periode  khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah (kekhalifahan atas manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’aala mengangkatnya, kemudian datang periode mulkan aadhdhon (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa, selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’aala, setelah itu akan terulang kembali periode khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam,”(HR Ahmad 17680).

Khilafah Rasyidah

Khilafah Rasidah berdiri tepat di hari wafatnya Rasululllah SAW. Terdiri dari 4 orang atau 5 orang shahabat nabi yang menjadi khalifah secara bergantian. Mereka adalah:
  • Abu Bakar ash-Shiddiq ra {tahun 11-13 H/632-634 M}
  • ‘Umar bin Khaththab ra {tahun 13-23 H/634-644 M}
  • ‘Utsman bin ‘Affan ra {tahun 23-35 H/644-656 M}
  • ‘Ali bin Abi Thalib ra {tahun 35-40 H/656-661 M} dan
  • Al-Hasan bin ‘Ali ra {tahun 40 H/661 M}
Masa berlakunya selama kurang lebih 30 tahun. Disebut juga sebagai khilafah rasyidah karena posisi mereka sebagai shahabat nabi yang mendapat petunjuk. Dan memang ada pesan dari nabi untuk mentaati para khalifah rasyidah ini.

Khilafah Bani Umayyah

Khilafah ini berpusat di Syiria, tepatnya di kota Damaskus. Berdiri untuk masa waktu sekitar 90 tahun atau tepatnya 89 tahun, setelah era khulafa ar-rasyidin selesai. Khalifah pertama adalah Mu’awiyyah. Sedangkan khalifah terakhir adalah Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Hakam. Adapun masa kekuasaan mereka sebagai berikut:
  • Mu’awiyyah bin Abi Sufyan {tahun 40-64 H/661-680 M}
  • Yazid bin Mu’awiyah {tahun 61-64 H/680-683 M}
  • Mu’awiyah bin Yazid {tahun 64-65 H/683-684 M}
  • Marwan bin Hakam {tahun 65-66 H/684-685 M}
  • Abdul Malik bin Marwan {tahun 66-86 H/685-705 M}
  • Walid bin ‘Abdul Malik {tahun 86-97 H/705-715 M}
  • Sulaiman bin ‘Abdul Malik {tahun 97-99 H/715-717 M}
  • ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz {tahun 99-102 H/717-720 M}
  • Yazid bin ‘Abdul Malik {tahun 102-106 H/720-724M}
  • Hisyam bin Abdul Malik {tahun 106-126 H/724-743 M}
  • Walid bin Yazid {tahun 126 H/744 M}
  • Yazid bin Walid {tahun 127 H/744 M}
  • Ibrahim bin Walid {tahun 127 H/744 M}
  • Marwan bin Muhammad {tahun 127-133 H/744-750 M}
Sebenarnya khilafah Bani Ummayah ini punya perpanjangan silsilah, sebab satu dari keturunan mereka ada yang menyeberang ke semenanjung Iberia dan masuk ke Spanyol. Di Spanyol mereka kemudian mendirikan khilafah tersendiri yang terlepas dari khilafah besar Bani Abbasiyah.

Khilfah Bani Abbasiyah

Kemudian kekhilafahan beralih ke tangan Bani ‘Abasiyah yang berpusat di Baghdad. Total masa berlaku khilafah ini sekitar 446 tahun. Khalifah pertama adalah Abu al-’Abbas al-Safaah. Sedangkan khalifah terakhirnya Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah. Secara rinci masa kekuasaan mereka sebagai berikut:
  1. Abul ‘Abbas al-Safaah {tahun 133-137 H/750-754 M}
  2. Abu Ja’far al-Manshur {tahun 137-159 H/754-775 M}
  3. Al-Mahdi {tahun 159-169 H/775-785 M}
  4. Al-Hadi {tahun 169-170 H/785-786 M}
  5. Harun al-Rasyid {tahun 170-194 H/786-809 M}
  6. Al-Amiin {tahun 194-198 H/809-813 M}
  7. Al-Ma’mun {tahun 198-217 H/813-833 M}
  8. Al-Mu’tashim Billah {tahun 618-228 H/833-842M}
  9. Al-Watsiq Billah {tahun 228-232 H/842-847 M}
  10. Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah {tahun 232-247 H/847-861 M}
  11. Al-Muntashir Billah {tahun 247-248 H/861-862 M}
  12. Al-Musta’in Billah {tahun 248-252 H/862-866 M}
  13. Al-Mu’taz Billah {tahun 252-256 H/866-869 M}
  14. Al-Muhtadi Billah {tahun 256-257 H/869-870 M}
  15. Al-Mu’tamad ‘Ala al-Allah {tahun 257-279 H/870-892 M}
  16. Al-Mu’tadla Billah {tahun 279-290 H/892-902 M}
  17. Al-Muktafi Billah {tahun 290-296 H/902-908 M}
  18. Al-Muqtadir Billah {tahun 296-320 H/908-932 M}
  19. Al-Qahir Billah {tahun 320-323 H/932-934 M}
  20. Al-Radli Billah {tahun 323-329 H/934-940 M}
  21. Al-Muttaqi Lillah {tahun 329-333 H/940-944 M}
  22. Al-Musaktafi al-Allah {tahun 333-335 H/944-946 M}
  23. Al-Muthi’ Lillah {tahun 335-364 H/946-974 M}
  24. Al-Tha`i’ Lillah {tahun 364-381 H/974-991 M}
  25. Al-Qadir Billah {tahun 381-423 H/991-1031 M}
  26. Al-Qa`im Bi Amrillah {tahun 423-468 H/1031-1075 M}
  27. Al-Mu’tadi Bi Amrillah {tahun 468-487 H/1075-1094 M}
  28. Al-Mustadhhir Billah {tahun 487-512 H/1094-1118 M}
  29. Al-Mustarsyid Billah {tahun 512-530 H/1118-1135 M}
  30. Al-Rasyid Billah {tahun 530-531 H/1135-1136 M}
  31. Al-Muqtafi Liamrillah {tahun 531-555 H/1136-1160 M}
  32. Al-Mustanjid Billah {tahun 555-566 H/1160-1170 M}
  33. Al-Mustadli`u Biamrillah {tahun 566-576 H/1170-1180 M}
  34. Al-Naashir Lidinillah {tahun 576-622 H/1180-1225 M}
  35. Al-Dhahir Biamrillah {tahun 622-623 H/1225-1226 M}
  36. Al-Mustanshir Billah {tahun 623-640 H/1226-1242 M}
  37. Al-Musta’shim Billah {tahun 640-656 H/1242-1258 M}
  38. Al-Mustanshir Billah II {tahun 660-661 H/1261-1262 M}
  39. Al-Haakim Biamrillah I {tahun 661-701 H/1262-1302 M}
  40. Al-Mustakfi Billah I {tahun 701-732 H/1302-1334 M}
  41. Al-Watsiq Billah I {tahun 732-742 H/1334-1343 M}
  42. Al-Haakim Biamrillah II {tahun 742-753 H/1343-1354 M}
  43. Al-Mu’tadlid Billah I
  44. Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah I
  45. Al-Watsir Billah II {tahun 785-788 H/1386-1389 M}
  46. Al-Musta’shim {tahun 788-791 H/1389-1392 M}
  47. Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah II
  48. Al-Musta’in Billah {tahun 808-815 H/1409-1416 M}
  49. Al-Mu’tadlid Billah II {tahun 815-845 H/1416- 1446 M}
  50. Al-Mustakfi Billah II {tahun 845-854 H/1446-1455 M}
  51. Al-Qa`im Biamrillah {tahun 754-859 H/1455-1460 M}
  52. Al-Mustanjid Billah {tahun 859-884 H/1460-1485 M}
  53. Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah III
  54. Al-Mutamasik Billah {tahun 893-914 H/1494-1515 M}
  55. Al-Mutawakil ‘Ala al-Allah IV
Khilafah Bani Abbasiyah dihancurkan oleh pasukan Tartar , sehingga umat Islam sempat hidup selama 3,5 tahun tanpa adanya khalifah. Namun kurun waktnya hanya terpaut 3 tahun setengah saja dan segera berdiri khilafah Utsmaniyah.

Khilafah Bani Utsmaniyyah

Khilafah Bani Utsmaniyyah tercatat memiliki30 orang khalifah, yang berlangsung mulai dari abad 10 Hijriyah atau abad ke enam belas Masehi. Nama-nama mereka sebagai berikut:
  1. Salim I {tahun 918-926 H/1517-1520 M}
  2. Sulaiman al-Qanuni {tahun 926-974 H/1520-1566 M}
  3. Salim II {tahun 974-982 H/1566-1574 M}
  4. Murad III {tahun 982-1003 H/1574-1595 M}
  5. Muhammad III {tahun 1003-1012 H/1595-1603 M}
  6. Ahmad I {tahun 1012-1026 H/1603-1617 M}
  7. Mushthafa I {tahun 1026-1027 H/1617-1618 M}
  8. ‘Utsman II {tahun 1027-1031 H/1618-1622 M}
  9. Mushthafa I {tahun 1031-1032 H/1622-1623 M}
  10. Murad IV {tahun 1032-1049 H/1623-1640 M}
  11. Ibrahim I {tahun 1049-1058 H/1640-1648 M}
  12. Muhammad IV {tahun 1058-1099 H/1648-1687 M}
  13. Sulaiman II {tahun 1099-1102 H/1687-1691 M}
  14. Ahmad II {tahun 1102-1106 H/1691-1695 M}
  15. Mushthafa II {tahun 1106-1115 H/1695-1703 M}
  16. Ahmad III {tahun 1115-1143 H/1703-1730 M}
  17. Mahmud I {tahun 1143-1168 H/1730-1754 M}
  18. ‘Utsman III {tahun 1168-1171 H/1754-1757 M}
  19. Musthafa III {tahun 1171-1187 H/1757-1774 M}
  20. ‘Abdul Hamid I {tahun 1187-1203 H/1774-1789 M}
  21. Salim III {tahun 1203-1222 H/1789-1807 M}
  22. Musthafa IV {tahun 1222-1223 H/1807-1808 M}
  23. Mahmud II {tahun 1223-1255 H/1808-1839 M}
  24. ‘Abdul Majid I {tahun 1255 H-1277 H/1839-1861 M}
  25. ‘Abdul ‘Aziz I {tahun 1277-1293 H/1861-1876 M}
  26. Murad V {tahun 1293-1293 H/1876-1876 M}
  27. ‘Abdul Hamid II {tahun 1293-1328 H/1876-1909 M}
  28. Muhammad Risyad V {tahun 1328-1338 H/1909-1918 M}
  29. Muhammad Wahiddin {th. 1338-1340 H/1918-1922 M}
  30. ‘Abdul Majid II {tahun 1340-1342 H/1922-1924 M}.
Khalifah terakhir umat Islam sedunia adalah ‘Abdul Majid II. Semenjak tumbangnya khilafah terakhir ini, berarti umat Islam telah hidup lebih dari selama tanpa keberadaan lembaga yang menyatukan.

Kepastian Kembalinya Khilafah

Lepas dari realitas di lapangan yang kurang menggembirakan, di mana umat Islam saat in menjadi budak barat, kekayaan alam mereka dijarah, ekonomi mereka terpuruk, nilai mata uang mereka sangat rendah, hutang luar negeri mereka bertumpuk tak terbayar, pemuda mereka dirusak, wanita mereka menjadi hamba syhwt (**) , bahkan masih ditambah lagi dengan rombongan Islam liberal dan sebagainya, namunmasih ada harapan. Kita masih menemukan satu hadits dari Rasulullah SAW yang cukup melegakan, yaitu kabar gembira dari beliau bahwa suatu saat, khilafah ini akan kembali terbentuk, bahkan dengan kualitasnya yang rasyidah itu.
Sabda Rasulullah saw, Kemudian akan tegak Khilafah Rasyidah yang sesuai dengan manhaj Nabi: Namun tentunya khilafah ini tidak akan terbentuk begitu saja, bila hanya dengan doa dan diam saja. Atau hanya dengan bicara dan demonstrasi saja. Setiap umat Islam meski bersinergi untuk saling menguatkan dan saling menyokong semua upaya untuk kembali kepada khilafah Islamiyah. Sebab setiap elemen umat punya potensi yang mungkin tidak dimiliki oleh saudaranya. Maka seruan untuk kembali kepada khilafah seharusnya bukan sekedar lips service, namun harus diiringi dengan kerja nyata, pembinaan dan pengkaderan 1,5 milyar umat, pendirian lembaga pendidikan dan sekian banyak pos-pos penting umat. Lantas diiringi juga dengan kebesaran hati, keterbukaan sikap serta jiwa kepemimpinan dunia Islam yang mumpuni.
Semoga Allah SWT memberikan kesempatan kepada kita untuk dapat menyaksikan beridirnya khilafah Islamiyah semasa kita hidup. Sungguh sebuah kepuasan yang dimpikan oleh dunia Islam selama ini. Amien.
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi warabaraktuh.sumber:http://beritaislamimasakini.com/urutan-khilafah-islamiyah.htm

Jumat, 26 Februari 2016

Sejarah Kesultanan Banten

KESULTANAN  BANTEN
Sejarah Kesultanan Banten Kerajaan Islam di Indonesia

Kerajaan Banten berawal sekitar tahun 1526, ketika kerajaan Demak memperluas pengaruhnya ke kawasan pesisir barat pulau Jawa, dengan menaklukan beberapa kawasan pelabuhan kemudian menjadikannya sebagai pangkalan militer serta kawasan perdagangan. Maulana Hasanuddin atau Fatahillah yang merupakan putera Sunan Gunung Jati berperan dalam penaklukan tersebut dengan mendirikan benteng yang dinamakan Surosowan, yang kemudian menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Banten.

Pada awalnya kawasan Banten dikenal dengan nama Banten Girang yang merupakan bagian dari Kerajaan Sunda. Tujuan pasukan Maulana Hasanuddin ke kawasan tersebut untuk perluasan wilayah sekaligus penyebaran dakwah Islam. Kemudian diicu oleh adanya kerjasama antara Sunda-Portugis dalam bidang ekonomi politik, hal ini dapat membahayakan kedudukan kerajaan demak selepas kekalhaan mereka mengusir portugis dari malaka tahun 1913.  Atas perintah Sultan Trenggono, Fatahillah melakukan penyerangan dan penkalukan Sunda Kelapa tahun 1527, yang pada saat itu masih meruupakan pelabuhan utama Kerajaan Sunda.

Selain mulai membangun benteng ertahana di Banten, Fatahillah juga melakukan perluasan kekuasaan ke daerah penfhasil Lada di Lampung dan melakukan kontak dagang dengan Raja Malangkabu ( Minangkabau, Kerajaan Indrapura), Sultan Munawar Syah dan dianugrahi keris oeh raja tersebut.
Setelah Sultan Trenggono wafat, kerajaan Demak mulai mundur dan Banten melepaskan diri dan membuat kerajaan mandiri. Tahun 1570 Fatahillah wafat dan digantikan anaknya yaitu Pangeran Yusuf.
Pada masa Pangeran Yusuf, tahun 1579 daerah daerah dibawah Pajajaran ditaklukan dan membuat kubu kubu pertahanan. Tahun 1580, Pangeran Yusuf wafat dan digantikan oleh puteranya yaitu Maulana Muhammad. Tahun 1596, Maulana Muhammad melancarkan serangan ke Palembang yang saat itu diperintah oleh Ki Gede ing Suro (1572-1627) yang merupakan penyiar agama islam asal Surabaya yang kala itu kerajaan Palembang lebih setia kepada Mataram dan merupakan saingan kerjaan Banten. Kerajaan Palembang dapat dikepung dan hampir dapat ditaklukan, namun tiba-tiba Maulana Muhammad terkena tembakan musuh dan meninggal. Oleh karena itu ia disebut Prabu Seda ing Palembang. Akhirnya tentara Banten mundur.

Putra Maulana Muhammad yang bernama Abumufakir Mahmud Abdul Kadir, masih kanak-kanak. Pemerintahan digantinkan oleh sang Mangkubumi. Mangkubumi berhasil disingkirkan Pangeran Manggala. Setelah Abumufakir cukup dewasa, pemerintahan sepenuhnya dipegang oleh Abumufakir.
Tahun 1596 Belanda datang ke pelabuhan Banten untuk yang pertama kali. Lalu mereka melakukakn hubungan dagang dengan Banten. Namun Belanda bersikap angkuh dan sombong, bahkan berbuat kekacauan. Banten pun mengusir Belanda. Dua tahun kemudian Belanda datang lagi dengan sikap yang baik, sehingga dapat berdagang di Banten dan Jayakarta.

Abad ke 17 banten mencapai masa keemasan. Setelah Abumufakir wafat, ia digantikan oleh Abumali Achmad. Setelah itu digantikan oleh Sultan yang terkenal yaitu Sultan Abdulfattah atau  Sultan Ageng Tirtayasa yang memerintah tahun 1651-1682.

Pada masa akhir pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa timbul konflik dalam istana. Raja muda Sultan Haji dihasut oleh VOC untuk menentang Sultan Ageng Tirtayasa dengan melakukan politik adu domba. Berakhirnya kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa membuat semakin kuatnya VOC. Sedangkan raja raja pengganti Sultan Ageng Tirtayasa bukanlah raja raja yang kuat. Maka berakhirlah kerajaan Banten.sumber: http://history-xscience1.blogspot.co.id/2014/05/sejarah-kesultanan-banten-kerajaan.html dan http://blog-ipah.blogspot.co.id/2012/05/sejarah-kerajaan-banten.html

Kesultanan Banten berawal ketika Kesultanan Demak memperluas pengaruhnya ke daerah barat. Pada tahun 1524/1525, Sunan Gunung Jati bersama pasukan Demak menaklukkan penguasa lokal di Banten, dan mendirikan Kesultanan Banten yang berafiliasi ke Demak.
Anak dari Sunan Gunung Jati (Hasanudin) menikah dengan seorang putri dari Sultan Trenggono dan melahirkan dua orang anak. Anak yang pertama bernama Maulana Yusuf. Sedangkan anak kedua menikah dengan anak dari Ratu Kali Nyamat dan menjadi Penguasa Jepara.
Terjadi perebutan kekuasaan setelah Maulana Yusuf wafat (1570). Pangeran Jepara merasa berkuasa atas Kerajaan Banten daripada anak Maulana Yusuf yang bernama Maulana Muhammad karena Maulana Muhammad masih terlalu muda. Akhirnya Kerajaan Jepara menyerang Kerajaan Banten. Perang ini dimenangkan oleh Kerajaan Banten karena dibantu oleh para ulama.
Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abu Fatah Abdulfatah atau lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu Pelabuhan Banten telah menjadi pelabuhan internasional sehingga perekonomian Banten maju pesat.

Daftar pemimpin Kesultanan Banten
a.  Sunan Gunung Jati
b.  Sultan Maulana Hasanudin 1552 – 1570
c.   Maulana Yusuf 1570 – 1580
e.  Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir 1605 – 1640
f.    Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad 1640 – 1650
h.  Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) 1683 – 1687
i.    Sultan Yahya 1687 – 1690
j.    Sultan Zainul Abidin 1690 – 1733
k.   Sultan Arifin 1733–1748
l.    Halimin
m. Abul Nazar Mohammad Arif Zainul Asikin 1753–1777

Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, lahir sekitar 1450 M namun ada juga yang mengatakan bahwa ia lahir pada sekitar 1448 M. Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari kelompok ulama besar di Jawa bernama walisongo.
Sunan Gunung Jati bernama Syarif Hidayatullah, lahir sekitar 1450. Ayah beliau adalah Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar. Jamaluddin Akbar adalah seorang Muballigh dan Musafir besar dari Gujarat, India yang sangat dikenal sebagai Syekh Mawlana Akbar bagi kaum Sufi di tanah air. Syekh Mawlana Akbar adalah putra Ahmad Jalal Syah putra Abdullah Khan putra Abdul Malik putra Alwi putra Syekh Muhammad Shahib Mirbath, ulama besar di Hadramawt, Yaman yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah melalui cucu beliau Imam Husayn.
Ibunda Syarif Hidayatullah adalah Nyai Rara Santang putri Prabu Siliwangi (dari Nyi Subang Larang) adik Kiyan Santang bergelar Pangeran Cakrabuwana yang berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, seorang Muballigh asal Baghdad bernama asli Idhafi Mahdi.
Makam Nyai Rara Santang bisa ditemui di dalam komplek KLENTENG di Pasar Bogor, di sebelah Kebun Raya Bogor.
Pertemuan Rara Santang dengan Syarif Abdullah cucu Syekh Mawlana Akbar masih diperselisihkan. Sebagian riwayat (lebih tepatnya mitos) menyebutkan bertemu pertama kali di Mesir, tapi analisis yang lebih kuat atas dasar perkembangan Islam di pesisir ketika itu, pertemuan mereka di tempat-tempat pengajian seperti yang di Majelis Syekh Quro, Karawang (tempat belajar Nyai Subang Larang ibunda dari Rara Santang) atau di Majelis Syekh Kahfi, Cirebon (tempat belajar Kiyan Santang kakanda dari Rara Santang).
Syarif Abdullah cucu Syekh Mawlana Akbar, sangat mungkin terlibat aktif membantu pengajian di majelis-majelis itu mengingat ayahanda dan kakek beliau datang ke Nusantara sengaja untuk menyokong perkembangan agama Islam yang telah dirintis oleh para pendahulu.
Pernikahan Rara Santang putri Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang dengan Abdullah cucu Syekh Mawlana Akbar melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Syarif Hidayatullah.
Raden Syarif Hidayatullah mewarisi kecendrungan spiritual dari kakek buyutnya Syekh Mawlana Akbar sehingga ketika telah selesai belajar agama di pesantren Syekh Kahfi beliau meneruskan ke Timur Tengah. Tempat mana saja yang dikunjungi masih diperselisihkan, kecuali (mungkin) Mekah dan Madinah karena ke 2 tempat itu wajib dikunjungi sebagai bagian dari ibadah haji buat seluruh umat Islam.
Babad Cirebon menyebutkan ketika Pangeran Cakrabuawana membangun kota Cirebon dan tidak mempunyai pewaris, maka sepulang dari Timur Tengah Raden Syarif Hidayat mengambil peranan mambangun kota Cirebon dan menjadi pemimpin perkampungan Muslim yang baru dibentuk itu setalah Uwaknya wafat.
Memasuki usia dewasa sekitar diantara tahun 1470-1480, beliau menikahi adik dari Bupati Banten ketika itu bernama Nyai Kawunganten. Dari pernikahan ini beliau mendapatkan seorang putri yaitu Ratu Wulung Ayu dan Mawlana Hasanuddin yang kelak menjadi Sultan Banten I.
Masa ini kurang banyak diteliti para sejarawan hingga tiba masa pendirianKesultanan Demak tahun 1487 yang mana beliau memberikan andil karena sebagai anggota dari Dewan Muballigh yang sekarang kita kenal dengan namaWalisongo. Pada masa ini beliau berusia sekitar 37 tahun kurang lebih sama dengan usia Raden Patah yang baru diangkat menjadi Sultan Demak I bergelar Alam Akbar Al Fattah. Bila Syarif Hidayat keturunan Syekh Mawlana Akbar Gujarat dari pihak ayah, maka Raden Patah adalah keturunan beliau juga tapi dari pihak ibu yang lahir di Campa.
Dengan diangkatnya Raden Patah sebagai Sultan di Pulau Jawa bukan hanya di Demak, maka Cirebon menjadi semacam Negara Bagian bawahan vassal state dari kesultanan Demak, terbukti dengan tidak adanya riwayat tentang pelantikan Syarif Hidayatullah secara resmi sebagai Sultan Cirebon.
Hal ini sesuai dengan strategi yang telah digariskan Sunan Ampel, Ulama yang paling di-tua-kan di Dewan Muballigh, bahwa agama Islam akan disebarkan di Pulau Jawa dengan Kesultanan Demak sebagai pelopornya.
Setelah pendirian Kesultanan Demak antara tahun 1490 hingga 1518 adalah masa-masa paling sulit, baik bagi Syarif Hidayat dan Raden Patah karena proses Islamisasi secara damai mengalami gangguan internal dari kerajaan Pakuan danGaluh (di Jawa Barat) dan Majapahit (di Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan gangguan external dari Portugis yang telah mulai expansi di Asia Tenggara.
Raja Pakuan di awal abad 16, seiring masuknya Portugis di Pasai dan Malaka, merasa mendapat sekutu untuk mengurangi pengaruh Syarif Hidayat yang telah berkembang di Cirebon dan Banten. Hanya Sunda Kelapa yang masih dalam kekuasaan Pakuan.
Di saat yang genting inilah Syarif Hidayat berperan dalam membimbing Pati Unus dalam pembentukan armada gabungan Kesultanan Banten, Demak, Cirebon di Pulau Jawa dengan misi utama mengusir Portugis dari wilayah Asia Tenggara. Terlebih dulu Syarif Hidayat menikahkan putrinya untuk menjadi istri Pati Unus yang ke 2 di tahun 1511.
Kegagalan expedisi jihad II Pati Unus yang sangat fatal di tahun 1521 memaksa Syarif Hidayat merombak Pimpinan Armada Gabungan yang masih tersisa dan mengangkat Tubagus Pasai (belakangan dikenal dengan nama Fatahillah),untuk menggantikan Pati Unus yang syahid di Malaka, sebagai Panglima berikutnya dan menyusun strategi baru untuk memancing Portugis bertempur di Pulau Jawa.
Sangat kebetulan karena Raja Pakuan telah resmi mengundang Armada Portugis datang ke Sunda Kelapa sebagai dukungan bagi kerajaan Pakuan yang sangat lemah di laut yang telah dijepit oleh Kesultanan Banten di Barat dan Kesultanan Cirebon di Timur.
Kedatangan armada Portugis sangat diharapkan dapat menjaga Sunda Kelapa dari kejatuhan berikutnya karena praktis Kerajaan Hindu Pakuan tidak memiliki lagi kota pelabuhan di Pulau Jawa setelah Banten dan Cirebon menjadi kerajaan-kerajaan Islam.
Tahun 1527 bulan Juni Armada Portugis datang dihantam serangan dahsyat dari Pasukan Islam yang telah bertahun-tahun ingin membalas dendam atas kegagalan expedisi Jihad di Malaka 1521.
Dengan ini jatuhlah Sunda Kelapa secara resmi ke dalam Kesultanan Banten-Cirebon dan di rubah nama menjadi Jayakarta dan Tubagus Pasai mendapat gelar Fatahillah.
Perebutan pengaruh antara Pakuan-Galuh dengan Cirebon-Banten segera bergeser kembali ke darat. Tetapi Pakuan dan Galuh yang telah kehilangan banyak wilayah menjadi sulit menjaga keteguhan moral para pembesarnya. Satu persatu dari para Pangeran, Putri Pakuan di banyak wilayah jatuh ke dalam pelukan agama Islam. Begitu pula sebagian Panglima Perangnya.
Satu hal yang sangat unik dari personaliti Syarif Hidayat adalah dalam riwayat jatuhnya ibukota Pakuan 1568 hanya setahun sebelum beliau wafat dalam usia yang sangat sepuh hampir 120 tahun (1569). Diriwayatkan dalam perundingan terakhir dengan para Pembesar istana Pakuan, Syarif Hidayat memberikan 2 opsi.
Yang pertama Pembesar Istana Pakuan yang bersedia masuk Islam akan dijaga kedudukan dan martabatnya seperti gelar Pangeran, Putri atau Panglima dan dipersilakan tetap tinggal di keraton masing-masing. Yang ke dua adalah bagi yang tidak bersedia masuk Islam maka harus keluar dari keraton masing-masing dan keluar dari ibukota Pakuan untuk diberikan tempat di pedalaman Banten wilayahCibeo sekarang.
Dalam perundingan terakhir yang sangat menentukan dari riwayat Pakuan ini, sebagian besar para Pangeran dan Putri-Putri Raja menerima opsi ke 1. Sedang Pasukan Kawal Istana dan Panglimanya (sebanyak 40 orang) yang merupakan Korps Elite dari Angkatan Darat Pakuan memilih opsi ke 2. Mereka inilah cikal bakal Penduduk Baduy Dalam sekarang yang terus menjaga anggota pemukiman hanya sebanyak 40 keluarga karena keturunan dari 40 pengawal istana Pakuan. Anggota yang tidak terpilih harus pindah ke pemukiman Baduy Luar.
Yang menjadi perdebatan para ahli hingga kini adalah opsi ke 3 yang diminta Para Pendeta Sunda Wiwitan. Mereka menolak opsi pertama dan ke 2. Dengan kata lain mereka ingin tetap memeluk agama Sunda Wiwitan (aliran Hindu di wilayah Pakuan) tetapi tetap bermukim di dalam wilayah Istana Pakuan.
Sejarah membuktikan hingga penyelidikan yang dilakukan para Arkeolog asing ketika masa penjajahan Belanda, bahwa istana Pakuan dinyatakan hilang karena tidak ditemukan sisa-sisa reruntuhannya. Sebagian riwayat yang diyakini kaum Sufi menyatakan dengan kemampuan yang diberikan Allah karena doa seorang Ulama yang sudah sangat sepuh sangat mudah dikabulkan, Syarif Hidayat telah memindahkan istana Pakuan ke alam ghaib sehubungan dengan kerasnya penolakan Para Pendeta Sunda Wiwitan untuk tidak menerima Islam ataupun sekadar keluar dari wilayah Istana Pakuan.
Terlepas dari benar-tidaknya pendapat kaum sufi di tanah air, sejarah telah membuktikan karakter yang sangat istimewa dari Syarif Hidayatullah baik dalam kapasitas sebagai Ulama, Ahli Strategi Perang, Diplomat ulung dan Negarawan yang bijak.
Bagi para sejarawan beliau adalah peletak konsep Negara Islam modern ketika itu dengan bukti berkembangnya Kesultanan Banten sebagi negara maju dan makmur mencapai puncaknya 1650 hingga 1680 yang runtuh hanya karena pengkhianatan seorang anggota istana yang dikenal dengan nama Sultan Haji.
Dengan segala jasanya umat Islam di Jawa Barat memanggil beliau dengan nama lengkap Syekh Mawlana Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati Rahimahullah.

Sultan Ageng Tirtayasa
Sultan Ageng Tirtayasa (Banten, 1631 – 1692) adalah putra Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad yang menjadi Sultan Banten periode 1640-1650. Ketika kecil, ia bergelarPangeran Surya. Ketika ayahnya wafat, ia diangkat menjadi Sultan Muda yang bergelar Pangeran Ratu atau Pangeran Dipati. Setelah kakeknya meninggal dunia, ia diangkat sebagai sultan dengan gelar Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah.
Nama Sultan Ageng Tirtayasa berasal ketika ia mendirikan keraton baru di dusun Tirtayasa (terletak di Kabupaten Serang). Ia dimakamkan di Mesjid Banten.
Riwayat Perjuangan
Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa di Kesultanan Banten pada periode 1651 –1682. Ia memimpin banyak perlawanan terhadap Belanda. Masa itu, VOCmenerapkan perjanjian monopoli perdagangan yang merugikan Kesultanan Banten. Kemudian Tirtayasa menolak perjanjian ini dan menjadikan Banten sebagai pelabuhan terbuka.
Saat itu, Sultan Ageng Tirtayasa ingin mewujudkan Banten sebagai kerajaan Islam terbesar. Di bidang ekonomi, Tirtayasa berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan membuka sawah-sawah baru dan mengembangkan irigasi. Di bidang keagamaan, ia mengangkat Syekh Yusuf sebagai mufti kerajaan dan penasehat sultan.
Ketika terjadi sengketa antara kedua putranya, Sultan Haji dan Pangeran Purbaya, Belanda ikut campur dengan bersekutu dengan Sultan Haji untuk menyingkirkan Sultan Ageng Tirtayasa. Saat Tirtayasa mengepung pasukan Sultan Haji di Sorosowan (Banten), Belanda membantu Sultan Haji dengan mengirim pasukan yang dipimpin oleh Kapten Tack dan de Saint Martin.
SILSILAH SULTAN BANTEN
SYARIF HIDAYATULLAH – SUNAN GUNUNG JATI Berputera :
1. Ratu Ayu Pembayun.
4. Maulana Hasanuddin
2. Pangeran Pasarean
5. Pangeran Bratakelana
3. Pangeran Jaya Lelana
6. Ratu Wianon

7. Pangeran Turusmi
PANGERAN HASANUDDIN – PANEMBAHAN SUROSOWAN (1552-1570) Berputera :
1. Ratu Pembayu
8. Ratu Keben
2. Pangeran Yusuf
9. Ratu Terpenter
3. Pangeran Arya Japara
10. Ratu Biru
4. Pangeran Suniararas
11. Ratu Ayu Arsanengah
5. Pangeran Pajajara
12. Pangeran Pajajaran Wado
6. Pangeran Pringgalaya
13. Tumenggung Wilatikta
7. Pangeran Sabrang LorPangeran
14. Ratu Ayu Kamudarage

15. Pangeran Sabrang Wetan
MAULANA YUSUF PANEMBAHAN PAKALANGAN GEDE (1570-1580) Berputra :
1. Pangeran Arya Upapati
8. Ratu Rangga
2. Pangeran Arya Adikara
9. Ratu Ayu Wiyos
3. Pangeran Arya Mandalika
10. Ratu Manis
4. Pangeran Arya Ranamanggala
11. Pangeran Manduraraja
5. Pangeran Arya Seminingrat
12. Pangeran widara
6. Ratu Demang
13. Ratu Belimbing
7. Ratu Pecatanda
14. Maulana Muhammad
MAULANA MUHAMMAD PANGERAN RATU ING BANTEN (1580-1596) Berputra :
1. Pangeran Abdul Kadir

SULTAN ABUL MAFAKHIR MAHMUD ‘ABDUL KADIR KENARI (15961651) Berputra:
1. Sultan ‘Abdul Maali Ahmad Kenari (Putra Mahkota)
19. Pangeran Arya Wirasuta
2. Ratu Dewi
20. Ratu Gading20.
3. Ratu Ayu
21. Ratu Pandan
4. Pangeran Arya Banten
22. Pangeran Wirasmara
5. Ratu Mirah
23. Ratu Sandi
6. Pangeran Sudamanggala
24. Pangeran Arya Jayaningrat
7. Pangeran Ranamanggala
25. Ratu Citra
8. Ratu Belimbing
26. Pangeran Arya Adiwangsa
9. Ratu Gedong
27. Pangeran Arya Sutakusuma
10. Pangeran Arya Maduraja
28. Pangeran Arya Jayasantika
11. Pangeran Kidul
29. Ratu Hafsah
12. Ratu Dalem
30. Ratu Pojok
13. Ratu Lor
31. Ratu Pacar
14. Pangeran Seminingrat
32. Ratu Bangsal
15. Ratu Kidul
33. Ratu Salamah
16. Pangeran Arya Wiratmaka
34. Ratu Ratmala
17. Pangeran Arya Danuwangsa
35. Ratu Hasanah
18. Pangeran Arya Prabangsa
36. Ratu Husaerah

37. Ratu Kelumpuk

38. Ratu Jiput

39. Ratu Wuragil
PUTRA MAHKOTA SULTAN ‘ABDUL MA’ALI AHMAD, Berputera:
1. Abul Fath Abdul Fattah
8. Pangeran Arya Kidul
2. Ratu Panenggak
9. Ratu Tinumpuk
3. Ratu Nengah
10. Ratu Inten
4. Pangeran Arya Elor
11. Pangeran Arya Dipanegara
5. Ratu Wijil
12. Pangeran Arya Ardikusuma
6. Ratu Puspita
13. Pangeran Arya Kulon
7. Pangeran Arya Ewaraja
14. Pangeran Arya Wetan

15. Ratu Ayu Ingalengkadipura
SULTAN AGENG TIRTAYASA -’ABUL FATH ‘ABDUL FATTAH (1651-1672) Berputra :
1. Sultan Haji
16. Tubagus Muhammad ‘Athif
2. Pangeran Arya ‘abdul ‘Alim
17. Tubagus Abdul
3. Pangeran Arya Ingayudadipura
18. Ratu Raja Mirah
4. Pangeran Arya Purbaya
19. Ratu Ayu
5. Pangeran Sugiri
20. Ratu Kidul
6. Tubagus Rajasuta
21. Ratu Marta
7. Tubagus Rajaputra
22. Ratu Adi
8. Tubagus Husaen
23. Ratu Ummu
9. Raden Mandaraka
24. Ratu Hadijah
10. Raden Saleh
25. Ratu Habibah
11. Raden Rum
26. Ratu Fatimah
12. Raden Mesir
27. Ratu Asyiqoh
13. Raden Muhammad
28. Ratu Nasibah
14. Raden Muhsin
29. Tubagus Kulon
15. Tubagus Wetan

SULTAN ABU NASR ABDUL KAHHAR – SULTAN HAJI (1672-1687) Berputra :
1. Sultan Abdul Fadhl
6. Ratu Muhammad Alim
2. Sultan Abul Mahasin
7. Ratu Rohimah
3. Pangeran Muhammad Thahir
8. Ratu Hamimah
4. Pangeran Fadhludin
9. Pangeran Ksatrian
5. Pangeran Ja’farrudin
10. Ratu Mumbay (Ratu Bombay)
SULTAN ABUDUL FADHL (1687-1690) Berputra :
- Tidak Memiliki Putera

SULTAN ABUL MAHASIN ZAINUL ABIDIN(1690-1733 ) Berputra :
1. Sultan Muhammad Syifa
31. Raden Putera
2. Sultan Muhammad Wasi’
32. Ratu Halimah
3. Pangeran Yusuf
33. Tubagus Sahib
4. Pangeran Muhammad Shaleh
34. Ratu Sa’idah
5. Ratu Samiyah
35. Ratu Satijah
6. Ratu Komariyah
36. Ratu ‘Adawiyah
7. Pangeran Tumenggung
37. Tubagus Syarifuddin
8. Pangeran Ardikusuma
38. Ratu ‘Afiyah Ratnaningrat
9. Pangeran Anom Mohammad Nuh
39. Tubagus Jamil
10. Ratu Fatimah Putra
40. Tubagus Sa’jan
11. Ratu Badriyah
41. Tubagus Haji
12. Pangeran Manduranagara
42. Ratu Thoyibah
13. Pangeran Jaya Sentika
43. Ratu Khairiyah Kumudaningrat
14. Ratu Jabariyah
44. Pangeran Rajaningrat
15. Pangeran Abu Hassan
45. Tubagus Jahidi
16. Pangeran Dipati Banten
46. Tubagus Abdul Aziz
17. Pangeran Ariya
47. Pangeran Rajasantika
18. Raden Nasut
48. Tubagus Kalamudin
19. Raden Maksaruddin
49. Ratu SIti Sa’ban Kusumaningrat
20. Pangeran Dipakusuma
50. Tubagus Abunasir
21. Ratu Afifah
51. Raden Darmakusuma
22. Ratu Siti Adirah
52. Raden Hamid
23. Ratu Safiqoh
53. Ratu Sifah
24. Tubagus Wirakusuma
54. Ratu Minah
25. Tubagus Abdurrahman
55. Ratu ‘Azizah
26. Tubagus Mahaim
56. Ratu Sehah
27. Raden Rauf
57. Ratu Suba/Ruba
28. Tubagus Abdul Jalal
58. Tubagus Muhammad Said (Pg. Natabaya)
29. Ratu Hayati

30. Ratu Muhibbah

SULTAN MUHAMMAD SYIFA’ ZAINUL ARIFIN (1733 – 1750) Berputra :
1.Sultan Muhammad ‘Arif
7. Ratu Sa’diyah
2. Ratu Ayu
8. Ratu Halimah
3. Tubagus Hasannudin
9. Tubagus Abu Khaer
4. Raden Raja Pangeran Rajasantika
10. Ratu Hayati
5. Pangeran Muhammad Rajasantika
11. Tubagus Muhammad Shaleh
6. Ratu ‘Afiyah

SULTAN SYARIFUDDIN ARTU WAKIL (1750 – 1752 )
- Tidak Berputera

SULTAN MUHAMMAD WASI’ ZAINUL ‘ALIMIN (1752-1753)
- Tidak Berputera

SULTAN MUHAMMAD ‘ARIF ZAINUL ASYIKIN (1753-1773) Berputra :
1. Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliyudin
4. Pangeran Suralaya
2. Sultan Muhyiddin Zainusholiohin
5. Pangeran Suramanggala
3 . Pangeran Manggala

SULTAN ABUL MAFAKHIR MUHAMMAD ALIYUDDIN (1773-1799) Berputra :
1. Sultan Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin
5. Pangeran Musa
2. Sultan Agilludin (Sultan Aliyuddin II)
6. Pangeran Yali
3. Pangeran Darma
7. Pangeran Ahmad
4. Pangeran Muhammad Abbas

SULTAN MUHYIDDIN ZAINUSHOLIHIN (1799-1801) Berputra :
1. Sultan Muhammad Shafiuddin

Sultan Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802)
Sultan Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803)
Sultan Agilludin (Sultan Aliyuddin II) (1803-1808)
Sultan Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809)
Sultan Muhammad Syafiuddin (1809-1813)
Sultan Muhammad Rafiuddin (1813-1820)

Diambil dari buku : Catatan Masa Lalu Banten – Halwany ‘n Mudjahid Chudari

DUKUNG PENDIRIAN MARKAS YGNI BANYUMAS-PROGRESS REPORT: DANA TERKUMPUL 25,6 JUTA DARI 350 JUTA-SELURUH DANA DARI BP_MAKMUR

Logo Baru YGNI Banyumas

Logo Baru YGNI Banyumas
Perubahan Logo Baru YGNI Banyumas