Siswa Diniyah Athfal Ponpes Shidiqiin Wara`

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Niat dari Pendiri dan Pengasuh adalah Jihad

Melalui PP Shidiqiin Wara`Pendiri dan Pengasuh PPSW berniat Jihad di Jalan Allah meninggikan Kalimat Allah.

Halangan dan Tantanga Dakwah PP Shidiqiin Wara` 3

Setiap Halangan dan Tantangan dilalui dengan Sabar sehingga PPSW berjalan puluhan tahun.

Kyai Muhammad Syechan Pendiri PP Shidiqiin Wara`

Tenaga.Pikiran dan Harta untuk Dakwah di Lingungan Purwojati Melalui PP Shidiqiin Wara`.

Pager Bangsa-Pengajian Gerakan Kebangsaan 5

Pager Bangsa diadakan pertama kali untuk anggota Pemuda Pakarti Purwojati dalam ikut membangun NKRI.

Tampilkan postingan dengan label Dunia Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Pesantren. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Mei 2016

Jenis-jenis Pondok Pesantren

Jenis-jenis Pondok Pesantren
Diambil dari Tesis: Peran Pesantren dalam Membentuk Karakter Pemuda[1]
Jenis-jenis pondok pesantren ada empat bagian yaitu: a) pondok pesantren dilihat dari sarana dan prasarana, b) pondok pesantren dilihat dari ilmu yang diajarka, c) pondok pesantren dilihat dari jumlah santri, dan d) pondok pesantren dilihat dari bidang pengetahuan. Keempat jenis pondok pesantren itu dijelaskan sebagai berikut: a). Pondok pesantren dilihat dari sarana dan prasarana.
Pondok pesantren dilihat dari sarana dan prasarana merupakan jenis pondok pesantren yang menggambarkan bahwa secara umum pondok pesantren memiliki sarana dan prasarana antara lain; a. tempat tinggal kiai, b. tempat tinggal santri, c. tempat belajar bernama, d. tempat ibadah, e. tempat memasak (dapur) santri, dan lain. Kelengkapan sarana dan prasarana pondok pesantren yang satu dengan yang lain bisa jadi berbeda.
I.              Pondok pesantren dilihat dari sarana prasarana memiliki beberapa variasi bentuk atau model yang secara garis besar dikelompokkan ada tiga tipe, yaitu:
A.      Pesantren tipe A, memiliki ciri-ciri:
1.    Para santri belajar dan menetap di pesantren
2.    Kurikulum tidak tertulis secara ekspilisit, tetapi berupa hidden kurikulum (kurikulum tersembunyi yang ada pada benak kiai)
3.    Pola pembelajaran menggunakan pembelajaran asli milik pesantren (sorogan, bandongan dan lainnya)
4.    Tidak menyelenggarakan pendidikan dengan system madrasah.
B.       Pesantren tipe B, memiliki ciri-ciri:
1.    Para santri tinggal dalam pondok asrama
2.    Pemanduan antara pola pembelajaran asli pesantren dengan sistem madrasah/ sistem sekolah.
3.    terdapat kurikulum yang jelas.
4.    memiliki tempat khsus yang berfungsi sebagai sekolah/madrasah
C.       Pesantren tipe C, memiliki ciri-ciri:
1.    Pesantren hanya semata-mata tempat tinggal bagi para santri
2.    Para santri belajar dimadrasah atau sekolah yang letaknya diluar bukan milik pesantren.
3.    Waktu belajar di pesantren biasanya malam atau siang hari pada saat santri tidak belajar di sekolah/madrasah (ketika mereka berada di pondok/asrama).
4.    Pada umumnya tidak terprogram dalam kurikulum yang jelas dan baku.
Apapun bentuk dan tipenya, sebuah institusi dapat disebut sebgai Pondok Pesantren apabila memiliki sekurang-kurangnya tiga unsur pokok, yaitu: (1) adanya kiai yang memberikan pengajaran, (2) para santri yang belajar dan tinggal di pondok, dan (3) adanya masjid sebagai tempat ibadah dan tempat mengaji.
    II.            Pondok pesantren dilihat dari ilmu yang diajarkan.
Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan pesantren yang begitu pesat, maka pesantren diklasifikasikan menjadi 3 macam yaitu, a. Pesantren Tradisional (salafiyah) b. Pesantren Modern (khalifiyah) dan c. Pesantren Komprehensuf sebagai berikut ini.
A.      Pesantren tradisional (Salafiyah)
Pesantren tradisional (salaifiyah) yaitu pesantren yang masih tetap mempertahankan bentuk aslinya dengan semata-mata mengajarkan kitab yang ditulis oleh ulama abad ke 15 M dengan menggunakan bahsa Arab. pola pengajarannya dengan menggunakan sistem “halaqah”, artinya diskusi untuk memahami isi kitab bukan untuk mempertanyakan kumungkinan benar salahnya yang diajarkan oleh kitab, tetapi untuk memahami apa maksud yang diajarkan oleh kitab. Santri yakin bahwa kiai tidak akan mengajarkan hal-hal yang salah, dan mereka yakin bahwa isi kitab yang di pelajai benar (Mastuhu, 1994)
Kurikulumnya tergantung sepenuhnya kepada para kiai pengasuhn pondoknya. Santri ada yang menetap didalam pondok (santri mukim, dan santri yang tidak menetap di dalam pondok (santri kalong). Sedangkan sistem madrasah (schooling) diterapkan hanya untuk memudahkan sistem soorogan yang dipakai dalam lembaga-lembaga pengajian bentuk lama, tanpa mengenalkan pelajaran umum. (Dhofier, 1994) Disamping sistem sorogan juga menerapkan sistem bandongan. (W. Bakhtiar, 1990). Contoh dari pesantren salaf antara lain adalah Pesantren Lirboyo dan Pesantren Ploso di Kediri, Pesantren Tremas si Pacitan, Pesatren Maslahul Huda di Pati, Pesantren An-Nur di Sewon Bantul dab Pesantren Mukhataj di Mojo tengah Wonosobo. (Dhofier, 1994)
B.       Pesantren Modern (Khalafiyah)
Pesantren Modern (Khalafiyah) yaitu pondok pesantren yang berusaha mengintegrasikan secara penuh sistem klasikal dan sekolah kedalam pondok pesantren. Pengajian kitab-kitab klasik tidak lagi menonjol, bahkan ada yang hanya sekedar pelengkap, tetapi berubah menjadi mata pelajaran atau bidang studi.
Perkembangan ini sangat menarik untuk diamati sebab hal ini akan mengetahui keseluruhan sistem tradisi pesantren, baik system kemasyarakatan, agama, dan pandangan hidup. Homogenetis kultural dan keagamaan akan semakin menurun dengan keanekaragaman dan kompleksitas perkembangan masyarakat. Indonesia modern. Namun demikian hal yang lebih menarik lagi adalah kelihatannya para kiai telah siap menghadapi perkembangan jaman. (Dhofier, 1994)
Meskipun demikian kurikulum Pesantren Modern (khilafiyah) memasukkan pengetahuan umum di pondok pesantren, akan tetapi tetap dikaitkan dengan ajaran agama. Sebagai contoh ilmu sosial dan politik, pelajaran ini selalu dikaitkan dengan ajaran agama.
C.       Pondok Pesantern Komprehensif
Pondok pesantern komprehensif yaitu pondok pesantren yang menggabungkan sistem pendidikan dan pengajaran antara yang tradisional dan yang modern. Artinya di dalamnya diterapkan pendidikan dan pengajaran kitab kuning dengan metode sorogan, bandongan dan wetonan, namun secara reguler sistem persekolahan terus dikembangkan.
Lebih jauh daripada itu pendidikan masyarakatpun menjadi garapannya, kebesaran pesantren dengan akan terwujud bersamaan dengan meningkat-nya kapasitas pengelola pesantren dan jangkauan programnya di masyarakat. Karakter pesantren yang demikian inilah yang dapat dipakai untuk memahami watak pesantren sebgai lembaga penberdayaan masyarakat. (M.D. Nafi‟. 2007)
III.               Pondok Pesantren dilihat dari jumlah santrinya.
Pondok pesantren dilihat dari jumlah santrinya merupakan jenis pondok pesantren yang mengganbarkan termasuk pondok pesantren besar, pondok pesantren menegah, dan pondok pesantren kecil. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan Dhofier bahwa pesantren dibagi menjadi 3 kelompok yaitu:
1.    Pondok pesantren yang memiliki jumlah santri lebih besar dari 2000 orang termasuk pondok pesantren besar. Contoh dari pondok pesantren ini adalah Lirboyo, dan Ploso di Kediri, Gontor Ponorogo, Tebuireng, Denayer Jombang, As-Syafiyah Jakarta dan sebgainya. Pondok jenis ini biasanya berskala nasional. Bahkan pondok modern Gontor Ponorogo mempunyai santri yang berasal dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, dan Brunai.
2.    Pondok pesantren yang memiliki jumlah santri anatara 1000 sampai 2000 orang termasuk pondok pesantren menegah.Contoh dari pondok pesantren ini adalah Maslakul Huda Kajen-Pati. Pondok pesantren ini biasanya regional.
3.    Pondok pesantren yang memiliki santri kurang dari 1000 orang termasuk pesantren kecil, Contoh pondok pesantren jenis ini adalah Tegalsari (salatiga), Kencong dan Jampes di Kediri. Pondok pesantren ini biasanya berskala lokal pondok. (Dhofier, 1994)
IV.          Pondok Pesantren dilihat dari bidang pengetahuan.
Pondok pesantren dilihat dari bidang pengetahuan merupakan jenis pondok pesantren yang menggambarkan kajian pengetahuan yang ada pada pesantren tersebut dibagi menjadi tiga jenis. Ketiga jenis pesantren tersebut adalahh (1) Pondok pesantren tasawuf: jenis pesantren ini pada umumnya mengajarkan pada santriyan untuk selalu menghambakan diri kepada Allah sang pencipta, dan banyak bermunajat kepada-Nya. Contoh pondok PETA Tulungagung, pondok Bambu Runcing Parakan, (2) Pondok pesantren fiqh: jenis pesantren ini pada umumnya lebih menekankan kepada santri untuk menguasai ilmu fiqh atau hukum Islam, sehingga diharapkan santri lulusanya dapat menyelesaikan permasalahan hidup berdasarkan hukum Islam. Contohnya pondok pesantren Lagitan Tuban, (3) Pondok pesantren alat: jenis pesaantren ini pada umumnya lebih mengutamakan pengajaran tentang gramatika bahasa Arab dan pengetahuan filologis dan etimologis, dengan pelajaran utama Nahwu dan Syaoraf (E.S. Nadji, 1985)



[1] Muh. Ramli, 2015. Peran Pesantren Dalam Membentuk Karakter Pemuda.Tesis. Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin Makassar

Perkembangan Pesantren dalam Membentuk Karakter Pemuda

Perkembangan Pesantren
Diambil dari Tesis: Peran Pesantren dalam Membentuk Karakter Pemuda[1]
Alwi Shihab (2002), dalam bukunya Islam Inklusif menulis Syaikh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik merupakan orang pertama yang membangun lembaga pengajian yang merupakan cikal bakal berdirinya pesantren sebagai tempat mendidik dan menggembleng para santri. Tujuannya adalah agar para santri menjadi juru dakwah yang mahir sebelum mereka diterjunkan langsung di masyarakat luas. Usaha Syaikh menemukan momuntem seiring dengan mulai runtuhnya singgasana kekuasaan Majapahit (1293 – 1478 M). Islam pun berkembang demikian pesat, khususnya di daerah pesisir yang kebetulan menjadi pusat perdagangan antar daerah bahkan antar negara.
Fatah Syukur (2002), menyampaikan bahwa hasil penelusuran sejarah ditemukan sejumlah bukti kuat yang menunjukkan bahwa cikal bakal pendirian pesantren pada awal ini terdapat di daerah-daerah sepanjang pantai utara Jawa, seperti Giri (Gresik), Ampel Denta (Surabaya), Bonang (Tuban), Kudus, Lasem, dan Cirebon. Kota-kota tersebut pada waktu itu merupakan kota kosmopolitan yang menjadi jalur penghubung perdagangan dunia, sekaligus tempat persinggahan para pedagang dan muballig Islam yang datang dari Jazirah Arab seperti Hadramaut, Persia, dan Irak. (Dinamika Pesantren dan Madrasah Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002)
Lembaga pendidikan pada awal masuknya Islam belum bernama pesantrensebagaimana dikemukakan oleh Marwan Saridjo sebagai berikut: Pada abad ke-7 M. atau abad pertama hijriyah diketahui terdapat komunitas muslim di Indonesia (Peureulak), namun belum mengenal lembaga pendidikan pesantren. Lembaga pendidikan yang ada pada masa-masa awal itu adalah masjid atau yang lebih dikenal dengan nama meunasah di Aceh, tempat masyarakat muslim belajar agama. Lembaga pesantren seperti yang kita kenal sekarang berasal dari Jawa. Usaha dakwah yang lebih berhasil di Jawa terjadi pada abad ke-14 M yang dipimpin oleh Maulana Malik Ibrahim dari tanah Arab.
Menurut sejarah, Maulana Malik Ibrahim ini adalah keturunan Zainal Abidin (cicit Nabi Muhammad saw). Ia mendarat di pantai Jawa Timur bersama beberapa orang kawannya dan menetap di kota Gresik. Sehingga pada abad ke-15 telah terdapat banyak orang Islam di daerah itu yang terdiri dari orang-orang asing, terutama dari Arab dan India. Di Gresik, Maulāna Mālik Ibrāhīm tinggal menetap dan menyiarkan agama Islam sampai akhir hayatnya tahun 1419 M. Sebelum meninggal dunia,
Maulāna Mālik Ibrāhīm (1406-1419) berhasil mengkader para muballig dan di antara mereka kemudian dikenal juga dengan wali. Para wali inilah yang meneruskan penyiaran dan pendidikan Islam melalui pesantren. Maulana Malik Ibrahim dianggap sebagai perintis lahirnya pesantren di tanah air yang kemudian dilanjutkan oleh Sunan Ampel.
Mengenai sejarah berdirinya pesantren pertama atau tertua di Indonesia terdapat perbedaan pendapat di kalangan peneliti, baik nama pesantren maupun tahun berdirinya. Berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan oleh Depatremen Agama pada 1984-1985 diperoleh informasi bahwa pesantren tertua di Indonesia adalah Pesantren Jan Tanpes II di Pamekasan Madura yang didirikan pada tahun 1762. Tetapi data Departemen Agama ini ditolak oleh Mastuhu. Sedangkan menurut Martin van Bruinessen seperti dikutip Abdullah Aly bahwa Pesantren Tegalsari, salah satu desa di Ponorogo, Jawa Timur merupakan pesantren tertua di Indonesia yang didirikan tahun 1742 M.12 Perbedaan pendapat tersebut karena minimnya catatan sejarah pesantren yang menjelaskan tentang keberadaan pesantren.
Pondok Pesantren merupakan rangkaian kata yang terdiri dari pondok dan pesantren. Kata pondok (kamar, gubuk, rumah kecil) yang dipakai dalam bahasa Indonesia dengan menekankan kesederhanaan bangunannya. Ada pula kemungkinan bahwa kata pondok berasal dari bahasa arab “fundūk” yang berarti ruang tempat tidur, wisma atau hotel sederhana.
Pada umumunya pondok memang merupakan tempat penampungan sederhana bagi para pelajar yang jauh dari tempat asalnya. Sedangkan kata pesantren berasal dari kata dasar “santri” yang dibubuhi awalan “pe” dan akhiran “an” yang berarti tempat tinggal para santri. Menurut beberapa ahli, sebagaimana yang dikutip oleh Zamakhsyari antara lain: Jhons, menyatakan bahwa kata santri berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru mengaji. Sedangkan CC. Berg berpendapat bahwa istilah ini berasal dari istilah shastri yang dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu, atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu. Kata shastri berasal dari kata shastra yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama, atau bukubuku tentang ilmu pengetahuan.
Berdasarkan uraian tersebut jelas bahwa dari segi etimologi pondok pesantren merupakan satu lembaga kuno yang mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan agama. Ada sisi kesamaan (secara bahasa) antara pesantren yang ada dalam sejarah Hindu dengan pesantren yang lahir belakangan. Antara keduanya memiliki kesamaan prinsip pengajaran ilmu agama yang dilakukan dalam bentuk asrama.
Secara terminologi, KH. Imam Zarkasih mengartikan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama atau pondok, di mana kyai sebagai figur sentral, masjid sebagai pusat kegiatan yang menjiwainya, dan pengajaran agama Islam di bawah bimbingan kyai yang diikuti santri sebagai kegiatan utamanya.
Pesantren sekarang ini merupakan lembaga pendidikan Islam yang memiliki ciri khas tersendiri. Lembaga pesantren ini sebagai lembaga Islam tertua dalam sejarah Indonesia yang memiliki peran besar dalam proses keberlanjutan pendidikan nasional. KH. Abdurrahman Wahid, mendefinisikan pesantren secara teknis, pesantren adalah tempat di mana santri tinggal.
Definisi di atas menunjukkan betapa pentingnya pesantren sebagai sebuah totalitas lingkungan pendidikan dalam makna dan nuansanya secara menyeluruh. Pesantren bisa juga dikatakan sebagai laboratorium kehidupan, tempat para santri belajar hidup dan bermasyarakat dalam berbagai segi dan aspeknya.
Mengenai asal-usul dan latar belakang pesantren di Indonesia terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ahli sejarah.
a.         Pendapat yang menyebutkan bahwa pesantren berakar pada tradisi Islam sendiri, yaitu tradisi tarekat. Pandangan ini dikaitkan dengan fakta bahwa penyebaran Islam di Indonesia pada awalnya banyak dikenal dalam bentuk kegiatan tarekat dengan dipimpin oleh kyai. Salah satu kegiatan tarekat adalah mengadakan suluk, melakukan ibadah di masjid di bawah bimbingan kyai. Untuk keperluan tersebut, kyai menyediakan ruang-ruang khusus untuk menampung para santri sebelah kiri dan kanan masjid. Para pengikut tarekat selain diajarkan amalan-amalan tarekat mereka juga diajarkan kitab agama dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan agama Islam. Aktivitas mereka itu kemudian dinamakan pengajian. Perkembangan selanjutnya, lembaga pengajian ini tumbuh dan berkembang menjadi lembaga pesantren. Bahkan dari segi penamaan istilah pengajian merupakan istilah baku yang digunakan pesantren, baik salaf maupun khalaf.
b.        menyatakan bahwa kehadiran pesantren di Indonesia diilhami oleh lembaga pendidikan “kuttab”, yakni lembaga pendidikan pada masa kerajaan bani Umayyah yang semula hanya merupakan wahana atau lembaga baca dan tulis dengan sistem halaqah. Pada tahap berikutnya lembaga ini mengalami perkembangan pesat, karena didukung oleh iuran masyarakat serta adanya rencana-rencana yang harus dipatuhi oleh pendidik dan anak didik. Pendapat ini hampir sama dengan pendapat yang menyatakan pesantren diadopsi dari lembaga pendidikan Islam Timur-Tengah, yaitu al -Azhar di Kairo, Mesir.
c.         Pesantren yang ada sekarang merupakan pengambil-alihan dari sistem pesantren orang-orang Hindu di Nusantara pada masa sebelum Islam. Lembaga ini dimaksudkan sebagai tempat mengajarkan ajaran-ajaran agama Hindu serta tempat membina kader-kader penyebar agama tersebut. Pesantren merupakan kreasi sejarah anak bangsa setelah mengalami persentuhan budaya dengan budaya pra-Islam. Pesantren merupakan system pendidikan Islam yang memiliki kesamaan dengan system pendidikan Hindu-Budha. Pesantren disamakan dengan mandala dan asrama dalam khazanah lembaga pendidikan pra-Islam.

Pesantren merupakan sekumpulan komunitas independen yang pada awalnya mengisolasi diri di sebuah tempat yang jauh dari pusat perkotaan (pegunungan). Pada awal berkembangnya, ada dua fungsi pesantren, yaitu sebagai lembaga pendidikan dan sebagai lembaga penyiaran Islam. Fungsi utama itu masih melekat pada pesantren, walaupun pada perkembangan selanjutnya pesantren mengalami perubahan.
Pesantren di Indonesia tumbuh dan berkembang sangat pesat. Sepanjang abad ke 18 sampai dengan abad ke- 20, pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam semakin dirasakan keberadaannya oleh masyarakat secara luas, sehingga kemunculan pesantren ditengah masyarakat selalu direspon positif, Respon positif masyarakat tersebut dijelaskan oleh Zuhairani (1992), sebagai berikut:
Pesantren didirikan oleh seorang kiai dengan bantuan masyarakat dengan cara memperluas bangunan di sekitar surau, langgar atau masjid untuk tempat pengajian dan sekaligus asrama sebagai asrama bagi anak-anak. Dengan begitu anak-anak tidak perlu bolak-balik pulang ke rumah orang tua mereka. Anak-anak menetap tinggal bersama kiai. Mas‟ud (2006)
Perkembangan pesantren terhambat ketika Belanda datang ke Indonesia untuk menjajah. Hal ini terjadi karena pesantren bersikap nonkooperatif bahkan mengadakan konforontasi terhadap penjajah. Lingkungan pesantren merasa bahwa sesuatu yang berasal dari barat dan bersifat modern menyimpang dari ajaran Islam.
Di masa kolonial Belanda, pesantren sangat antipati terhadap westernisasi dan modernisme yang ditawarkan oleh Belanda. Akibat dari sikap tersebut, pemerintah kolonial mengadakan kontrol dan pengawasan yang ketat terhadap pesantren. Pemerintah Belanda mencurigai institusi pendidikan dan keagamaan pribumi yang digunakan untuk melatih para pejuang militan untuk melawan penjajah.




[1] Muh. Ramli, 2015. Peran Pesantren Dalam Membentuk Karakter Pemuda.Tesis. Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin Makassar

Kamis, 29 Januari 2015

Pemanfaatan Teknologi Informasi Di Pesantren Pesantren

Diakui bahwa pondok pesantren baik secara kelembagaan dan substansi pendidikannya telah banyak mengalami perubahan. Perubahan akanterus berlanjut terkait dengan perubahan social dan perubahan peraturan perundang-undangan. Khusus, setelah diundangkannya UndangUndang (UU) Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, bahwa secara kelembagaan, pesantren yang menyelenggarakan pendidikan madrasah, wajib mengikuti standar kurikulum secara nasional sebagaimana ketetapan UU. Ini artinya, pendidikan di pondok pesantren (madrasah) sudah tidakbisa dibedakan dengan sekolah umum semacam SMA, sama-sama membuka jurusan IPA, IPS, Bahasa dan Keterampilan, pada tingkat sekolah menengah.
Pengembangan pesantren bukanlah hal baru, dan akan terus dilakukan baik oleh internal pesantren maupun bekerja sama dengan lembaga lain. Secara internal, pesantren sudah memiliki caranya sendiri misalanya melalui saling mengambil menantu atau mengambil menantu dari kalangan santri yang pandai.  Disamping itu, pesantren juga memiliki prinsip menjaga dan berkembang yang hingga saat ini masih dijalankan. Dengan demikian, untuk berkembang, bagi pesantren bukanlah hal baru.
Mencermati perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa kini dan mendatang disertai dengan perkembangan kebudayaan, maka pendidikan pesantren tidak harus mengesampingkan pendidikan teknologi informasi (TI), terutama dalam menumbuhkan Islamic technological-attitude (sikap berteknologi secara Islami) dan technological-quotient (kecerdasan berteknologi) sehingga santri memiliki motivasi, inisiatif dan kreativitas untuk memahami teknologi.
Kemajuan TI di pesantren tidak mungkin terwujud tanpa adanya sumberdaya manusia berkualitas. Ketersediaan TI dan pemanfaatannya di lembaga pendidikan pesantren, sekalipun sederhana dan terbatas, akan meningkatkan pembelajaran dalam hal peningkatan efektifitas, efisiensi, dan daya tarik pembelajaran.
Melihat fenomena tersebut, Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan memandang perlu melakukan penelitian untuk mengkaji lebih jauh tentang  pemanfaatan teknologi informasi (TI) di pondok pesantren, dengan rumusan masalah bagaimana pesantren responsible terhadap penggunaan TI, baik dari sisi SDM, pemanfaatan dan bentuknya, serta dampak yang dtimbulkannya.

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: a) kemampuan SDM memanfaatkan TI di pesantren, c) pemanfaatan TI di pesantren, d) dampak pemanfaatan TI  terhadap daya ubah  sistem pendidikan pesantren dan e) bentuk perangkat TI ke depan yang dibutuhkan dalam sistem pendidikan pesantren

Metodologi
Lokasi penelitian ini meliputi PP. Al-Hamidiyah dan PP. Sindang Resmi (Jawa Barat), PP. Pabelan (Jawa Tengah), PP Modern Al-Amanah danPP. Amanatul Ummah (Jawa Timur), PP Al Mujahidin (Kalimantan Timur), PP. Nurul Haramain (NTB),  dan PP. Al-Ittifaqiyah (Sumatra Selatan)
Metode penelitian ini kualitatif dengan analisis deskriptif. Adapun PPS yang menjadi sasaran penelitian ada di enam propnsi meliputi:.Pesantren sasaran penelitian adalah  pesantren yang memiliki Laboratorium Komputer.
Teknik pengumpulan data dilakukan melaui form isian untuk menggali data kelembagaan, ketenagaan, sarana. Wawancara, untuk menggali data primer dan studi dokumen untuk menggali data sekunder.

Temuan

1.Kemampuan SDM TI
Berkaitan dengan kemampuan SDM TI terdapat dua katagori pesantren. Pesantren yang SDM TI sudah menguasai beberapa software diantaranya PP Nurul Haramain dan PP. Modern Al Amanah, PP. Al-Hamidiyah dan PP. Amantul Ummah dan PP Al Mujahidin). SDM TI nya sudah dapat mengoperasikan selain Microsoft Office (software standar), tapi juga menguasai software yang lainnya : Photoshop, coreldraw dll. Sebaliknya pada PP. Al-Ittifaqiyah, dan PP. Sindang Resmi,  SDM TI hanya dapat menguasai software Office. Sebagian besar santri, ustadz dan TU baru dapat mengoperasikan Microsoft Office (software standar) yaitu Microsoft Word, Excell dan Power Point.
Tentang kesesuaian latar belakang pendidikan ustadz TI, tidak sepenuhnya ustadz TI di pesantren sasaran berpendidikan sarjana komputer, tetapi ustadz-ustadz tersebut berpendidikan S1 yang menguasai tentang TI. Secara umum penguasaan TI lebih banyak diasah secara otodidak dan pengalaman serta tingkat penguasaan mereka masih sebatas penggunaan tool atau alat standar pada aplikasi software belum kepada penguasaan program software.

2.Pemanfaatan TI
Berkaitan pemanfaatan TI dalam perannya sebagai lembaga keagamaan, PP. Nurul Haramain sebagai lembaga keagamaan, santri dan masyarakat sekitar menerima kegiatan syiar dawah dari para kiyai dengan menggunakan perangkat teknologi berupa Komputer dan LCD yang diletakkan permanen di masjid Nurul Haramain. Dalam perannya sebagai lembaga pendidikan islam , perangkat TI digunakan oleh ke delapan pesantren sasaran untuk proses belajar mengajar di kelas oleh ustadz dan santri serta pengelolaan adminstrasi pesantren oleh staff TU dan pengurus pesantren. Khusus pada PP. Nurul Haramain dalam proses belajar mengajar kitab kuning, kiyai nya sudah menggunakan Software Maktabah Syamilah. Islamic programs untuk mempelajari zakat, waris dan waktu sholat, Qur'anic Learning untuk mempelajari tajwid. Sedangkan pada PP. Alhamidiyah dalam kajian islam sudah memanfaatkan Kamus Arab dan Al-Qur'an digital.
Peranan lain yaitu pesantren sebagai lembaga sosial. Khusus untuk pesantren Pabelan , pemanfaatan Komputer sudah digunakan untuk keperluan yang lebih luas yaitu selain untuk proses pendidikan  (STEP  II) juga untuk kegiatan ketrampilan (Life skill) melalui Telecenter e-Pabelan menyediakan layanan informasi kepada masyarakat desa tentang berbagai hal untuk para petani dalam rangka meningkatkan kesejahteraan hidup mereka (sosialisasi informasi-informasi yang sedang trend seperti pendidikan, kesehatan, teknologi informasi, perempuan, life skill.

3.Dampak pemanfaatan TI
Pada dasarnya dampak pemanfaatan TI terhadap daya ubah system pendidikan di pesantren sasaran  beragam tingkat daya ubahnya. Dari kedelapan pesantren sasaran, terdapat dua katagori dampak pemanfataan TI. Katagori pertama, Lima pesantren (PP Nurul Haramain, PP. Al-Hamidiyah, PP. Amanatul Ummah,  PP Al Mujahidin, dan PP. Pabelan) memberikan respon sangat signifikan  dampak pemanfaatan TI bagi sistem pendidikan, karena sudah melakukan pembaharuan sistim pendiidkan yang integratif dengan menerapkan TI pada seluruh kegaitan pesantren
Sedangkan katagori ke dua, PP. Modern Al-Amanah,  PP. Al-Ittifaqiyah dan PP. Sindang resmi menyatakan bahwa dampak ekstrim terhadap pola pendidikan tidak terlihat jelas atau tidak terlalu signifikan pemanfataan TI. Dalam proses pembelajaran, pola penyampaian masih bersifat metode konvensional dalam arti ustadz dan pengajar menyampaikan materi pelajaran dan memberi  tugas belajar masih dengan cara bertatap muka di dalam kelas. Santri masih membaca buku dan mencatat pelajaran, hanya ketika mencari data, santri sudah menggunakan internet tidak dengan manual. Dengan demikian di ketiga pesantren ini pemanfataan TI hanya sebagai penunjang dan bukan sebagai komponen penting.
4. Perangkat TI yang diperlukan ke depan
Dari kedelapan pesantren sasaran, dapat disimpulkan bahwa perangkat TI yang dibutuhkan ke depan oleh pesantren adalah: pertama, tersedianya perangkat Hardware yang lengkap meliputi penambahan jumlah : PC, LCD, Printer, Multi media, internet, LAN, Media Audio. Kedua, tersedianya perangkat Softwarepembelajaran yang memanfaatkan TI sehingga dapat digunakan dalam proses belajar mengajar. Ketiga, tersedianya  perangkat Brainware (SDM TI) berkualitas yang mampu menggunakan hardware dan software, oleh karena itu pemerintah perlu mengadakan pelatihan dan workshop tentang perangkat TI.
5.Strategi pemanfaatan TI
strategi yang di lakukan untuk pengembangan pemanfaatan TI di 8 pesantren sasaran diantaranya: pertama, melengkapi infrastruktur TI (hardware dan software). Kedua, peningkatan SDM (penambahan pengetahuan dan ketrampilan TI) melalui perekruitan tenaga ustadz dan TU  yang menguasai TI, mengikut sertakan para ustadz dan TU dalam pelatihan-pelatihan TI baik yang dilaksanakan oleh Diknas, Depag, Perguruan Tinggi dan Oleh Yayasan. Ketiga,  peningkatan dana untuk penyelenggaraan dan pemeliharaan TI, dan Keempat, perluasan jaringan ke berbagai perguruan  tinggi.

Rekomendasi
1.Pesantren berupaya meningkatkan jumlah dan kelengkapan perangkat TI, oleh karena itu perlu dilakukan koordinasi antara pesantren dengan pemerintah Kab/Kota  dan Departemen Agama (khususnya Direktorat Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren) dalam rangka memberikan bantuan pengembangan TI.
2.Berupaya meningkatkan kemampuan ustadz, tenaga administrasi (TU) dan santri dalam memanfaatkan TI untuk kegiatan belajar-mengajar di sekolah dan pengelolaan pendidikan guna mendorong  mutu hasil pendidikan yang optimal.
3.Departemen Agama (khususnya Direktorat Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren) perlu mengadakan pelatihan TI bagi ustadz pesantren (penguasaan perangkat keras dan lunak serta perawatannya) untuk memaksimalkan pemanfaatan perangkat TI yang sudah ada, melalui diklat dan seminar-seminar tentang TI secara terencana dan berkelanjutan.
4.Departemen Agama (khususnya Direktorat Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren) diupayakan melakukan studi kelayakan kepada pesantren yang akan diberi bantuan perangkat komputer. Pesantren yang berprespektif adaptif , pemanfaatkan komputer hanya sebagai pelengkap/penunjang dalam sistem pendidikan maka perangkat TI yang dibutuhkan berbeda dengan pesantren yang berprespektif antisipatif yang memanfaatkan TI sebagai grand strategic dalam program pendidikan dan pengajaran di pondok pesantren  secara integral dan holistic.

Kamis, 09 Oktober 2014

Pengurus Pesantren Shidiqiin Wara`

Pengurus Pondok Pesantren Wirausaha Shidiqiin Wara`:
Dewan Pengasuh :
Ketua Dewan : KH. Suharto, AMa.Pd
Wakil Ketua  :  Ust. Raras Wuri Miswandaru, SPdI, MPdI.
Anggota        :  KH. Drs A Khaerul Zubair, MM

Sekretaris      :  Basirun Abbas
Bendahara     :
 Pengurus Yayasan / Pengurus Harian :
Ketua           :
Wakil Ketua ;
Sekretaris
Sekretaris II :
Bendahara   :
Bendahara II :


DUKUNG PENDIRIAN MARKAS YGNI BANYUMAS-PROGRESS REPORT: DANA TERKUMPUL 25,6 JUTA DARI 350 JUTA-SELURUH DANA DARI BP_MAKMUR

Logo Baru YGNI Banyumas

Logo Baru YGNI Banyumas
Perubahan Logo Baru YGNI Banyumas