Siswa Diniyah Athfal Ponpes Shidiqiin Wara`

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Niat dari Pendiri dan Pengasuh adalah Jihad

Melalui PP Shidiqiin Wara`Pendiri dan Pengasuh PPSW berniat Jihad di Jalan Allah meninggikan Kalimat Allah.

Halangan dan Tantanga Dakwah PP Shidiqiin Wara` 3

Setiap Halangan dan Tantangan dilalui dengan Sabar sehingga PPSW berjalan puluhan tahun.

Kyai Muhammad Syechan Pendiri PP Shidiqiin Wara`

Tenaga.Pikiran dan Harta untuk Dakwah di Lingungan Purwojati Melalui PP Shidiqiin Wara`.

Pager Bangsa-Pengajian Gerakan Kebangsaan 5

Pager Bangsa diadakan pertama kali untuk anggota Pemuda Pakarti Purwojati dalam ikut membangun NKRI.

Tampilkan postingan dengan label Dunia-Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia-Pesantren. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Mei 2016

Jenis-jenis Pondok Pesantren

Jenis-jenis Pondok Pesantren
Diambil dari Tesis: Peran Pesantren dalam Membentuk Karakter Pemuda[1]
Jenis-jenis pondok pesantren ada empat bagian yaitu: a) pondok pesantren dilihat dari sarana dan prasarana, b) pondok pesantren dilihat dari ilmu yang diajarka, c) pondok pesantren dilihat dari jumlah santri, dan d) pondok pesantren dilihat dari bidang pengetahuan. Keempat jenis pondok pesantren itu dijelaskan sebagai berikut: a). Pondok pesantren dilihat dari sarana dan prasarana.
Pondok pesantren dilihat dari sarana dan prasarana merupakan jenis pondok pesantren yang menggambarkan bahwa secara umum pondok pesantren memiliki sarana dan prasarana antara lain; a. tempat tinggal kiai, b. tempat tinggal santri, c. tempat belajar bernama, d. tempat ibadah, e. tempat memasak (dapur) santri, dan lain. Kelengkapan sarana dan prasarana pondok pesantren yang satu dengan yang lain bisa jadi berbeda.
I.              Pondok pesantren dilihat dari sarana prasarana memiliki beberapa variasi bentuk atau model yang secara garis besar dikelompokkan ada tiga tipe, yaitu:
A.      Pesantren tipe A, memiliki ciri-ciri:
1.    Para santri belajar dan menetap di pesantren
2.    Kurikulum tidak tertulis secara ekspilisit, tetapi berupa hidden kurikulum (kurikulum tersembunyi yang ada pada benak kiai)
3.    Pola pembelajaran menggunakan pembelajaran asli milik pesantren (sorogan, bandongan dan lainnya)
4.    Tidak menyelenggarakan pendidikan dengan system madrasah.
B.       Pesantren tipe B, memiliki ciri-ciri:
1.    Para santri tinggal dalam pondok asrama
2.    Pemanduan antara pola pembelajaran asli pesantren dengan sistem madrasah/ sistem sekolah.
3.    terdapat kurikulum yang jelas.
4.    memiliki tempat khsus yang berfungsi sebagai sekolah/madrasah
C.       Pesantren tipe C, memiliki ciri-ciri:
1.    Pesantren hanya semata-mata tempat tinggal bagi para santri
2.    Para santri belajar dimadrasah atau sekolah yang letaknya diluar bukan milik pesantren.
3.    Waktu belajar di pesantren biasanya malam atau siang hari pada saat santri tidak belajar di sekolah/madrasah (ketika mereka berada di pondok/asrama).
4.    Pada umumnya tidak terprogram dalam kurikulum yang jelas dan baku.
Apapun bentuk dan tipenya, sebuah institusi dapat disebut sebgai Pondok Pesantren apabila memiliki sekurang-kurangnya tiga unsur pokok, yaitu: (1) adanya kiai yang memberikan pengajaran, (2) para santri yang belajar dan tinggal di pondok, dan (3) adanya masjid sebagai tempat ibadah dan tempat mengaji.
    II.            Pondok pesantren dilihat dari ilmu yang diajarkan.
Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan pesantren yang begitu pesat, maka pesantren diklasifikasikan menjadi 3 macam yaitu, a. Pesantren Tradisional (salafiyah) b. Pesantren Modern (khalifiyah) dan c. Pesantren Komprehensuf sebagai berikut ini.
A.      Pesantren tradisional (Salafiyah)
Pesantren tradisional (salaifiyah) yaitu pesantren yang masih tetap mempertahankan bentuk aslinya dengan semata-mata mengajarkan kitab yang ditulis oleh ulama abad ke 15 M dengan menggunakan bahsa Arab. pola pengajarannya dengan menggunakan sistem “halaqah”, artinya diskusi untuk memahami isi kitab bukan untuk mempertanyakan kumungkinan benar salahnya yang diajarkan oleh kitab, tetapi untuk memahami apa maksud yang diajarkan oleh kitab. Santri yakin bahwa kiai tidak akan mengajarkan hal-hal yang salah, dan mereka yakin bahwa isi kitab yang di pelajai benar (Mastuhu, 1994)
Kurikulumnya tergantung sepenuhnya kepada para kiai pengasuhn pondoknya. Santri ada yang menetap didalam pondok (santri mukim, dan santri yang tidak menetap di dalam pondok (santri kalong). Sedangkan sistem madrasah (schooling) diterapkan hanya untuk memudahkan sistem soorogan yang dipakai dalam lembaga-lembaga pengajian bentuk lama, tanpa mengenalkan pelajaran umum. (Dhofier, 1994) Disamping sistem sorogan juga menerapkan sistem bandongan. (W. Bakhtiar, 1990). Contoh dari pesantren salaf antara lain adalah Pesantren Lirboyo dan Pesantren Ploso di Kediri, Pesantren Tremas si Pacitan, Pesatren Maslahul Huda di Pati, Pesantren An-Nur di Sewon Bantul dab Pesantren Mukhataj di Mojo tengah Wonosobo. (Dhofier, 1994)
B.       Pesantren Modern (Khalafiyah)
Pesantren Modern (Khalafiyah) yaitu pondok pesantren yang berusaha mengintegrasikan secara penuh sistem klasikal dan sekolah kedalam pondok pesantren. Pengajian kitab-kitab klasik tidak lagi menonjol, bahkan ada yang hanya sekedar pelengkap, tetapi berubah menjadi mata pelajaran atau bidang studi.
Perkembangan ini sangat menarik untuk diamati sebab hal ini akan mengetahui keseluruhan sistem tradisi pesantren, baik system kemasyarakatan, agama, dan pandangan hidup. Homogenetis kultural dan keagamaan akan semakin menurun dengan keanekaragaman dan kompleksitas perkembangan masyarakat. Indonesia modern. Namun demikian hal yang lebih menarik lagi adalah kelihatannya para kiai telah siap menghadapi perkembangan jaman. (Dhofier, 1994)
Meskipun demikian kurikulum Pesantren Modern (khilafiyah) memasukkan pengetahuan umum di pondok pesantren, akan tetapi tetap dikaitkan dengan ajaran agama. Sebagai contoh ilmu sosial dan politik, pelajaran ini selalu dikaitkan dengan ajaran agama.
C.       Pondok Pesantern Komprehensif
Pondok pesantern komprehensif yaitu pondok pesantren yang menggabungkan sistem pendidikan dan pengajaran antara yang tradisional dan yang modern. Artinya di dalamnya diterapkan pendidikan dan pengajaran kitab kuning dengan metode sorogan, bandongan dan wetonan, namun secara reguler sistem persekolahan terus dikembangkan.
Lebih jauh daripada itu pendidikan masyarakatpun menjadi garapannya, kebesaran pesantren dengan akan terwujud bersamaan dengan meningkat-nya kapasitas pengelola pesantren dan jangkauan programnya di masyarakat. Karakter pesantren yang demikian inilah yang dapat dipakai untuk memahami watak pesantren sebgai lembaga penberdayaan masyarakat. (M.D. Nafi‟. 2007)
III.               Pondok Pesantren dilihat dari jumlah santrinya.
Pondok pesantren dilihat dari jumlah santrinya merupakan jenis pondok pesantren yang mengganbarkan termasuk pondok pesantren besar, pondok pesantren menegah, dan pondok pesantren kecil. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan Dhofier bahwa pesantren dibagi menjadi 3 kelompok yaitu:
1.    Pondok pesantren yang memiliki jumlah santri lebih besar dari 2000 orang termasuk pondok pesantren besar. Contoh dari pondok pesantren ini adalah Lirboyo, dan Ploso di Kediri, Gontor Ponorogo, Tebuireng, Denayer Jombang, As-Syafiyah Jakarta dan sebgainya. Pondok jenis ini biasanya berskala nasional. Bahkan pondok modern Gontor Ponorogo mempunyai santri yang berasal dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, dan Brunai.
2.    Pondok pesantren yang memiliki jumlah santri anatara 1000 sampai 2000 orang termasuk pondok pesantren menegah.Contoh dari pondok pesantren ini adalah Maslakul Huda Kajen-Pati. Pondok pesantren ini biasanya regional.
3.    Pondok pesantren yang memiliki santri kurang dari 1000 orang termasuk pesantren kecil, Contoh pondok pesantren jenis ini adalah Tegalsari (salatiga), Kencong dan Jampes di Kediri. Pondok pesantren ini biasanya berskala lokal pondok. (Dhofier, 1994)
IV.          Pondok Pesantren dilihat dari bidang pengetahuan.
Pondok pesantren dilihat dari bidang pengetahuan merupakan jenis pondok pesantren yang menggambarkan kajian pengetahuan yang ada pada pesantren tersebut dibagi menjadi tiga jenis. Ketiga jenis pesantren tersebut adalahh (1) Pondok pesantren tasawuf: jenis pesantren ini pada umumnya mengajarkan pada santriyan untuk selalu menghambakan diri kepada Allah sang pencipta, dan banyak bermunajat kepada-Nya. Contoh pondok PETA Tulungagung, pondok Bambu Runcing Parakan, (2) Pondok pesantren fiqh: jenis pesantren ini pada umumnya lebih menekankan kepada santri untuk menguasai ilmu fiqh atau hukum Islam, sehingga diharapkan santri lulusanya dapat menyelesaikan permasalahan hidup berdasarkan hukum Islam. Contohnya pondok pesantren Lagitan Tuban, (3) Pondok pesantren alat: jenis pesaantren ini pada umumnya lebih mengutamakan pengajaran tentang gramatika bahasa Arab dan pengetahuan filologis dan etimologis, dengan pelajaran utama Nahwu dan Syaoraf (E.S. Nadji, 1985)



[1] Muh. Ramli, 2015. Peran Pesantren Dalam Membentuk Karakter Pemuda.Tesis. Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin Makassar

Perkembangan Pesantren dalam Membentuk Karakter Pemuda

Perkembangan Pesantren
Diambil dari Tesis: Peran Pesantren dalam Membentuk Karakter Pemuda[1]
Alwi Shihab (2002), dalam bukunya Islam Inklusif menulis Syaikh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik merupakan orang pertama yang membangun lembaga pengajian yang merupakan cikal bakal berdirinya pesantren sebagai tempat mendidik dan menggembleng para santri. Tujuannya adalah agar para santri menjadi juru dakwah yang mahir sebelum mereka diterjunkan langsung di masyarakat luas. Usaha Syaikh menemukan momuntem seiring dengan mulai runtuhnya singgasana kekuasaan Majapahit (1293 – 1478 M). Islam pun berkembang demikian pesat, khususnya di daerah pesisir yang kebetulan menjadi pusat perdagangan antar daerah bahkan antar negara.
Fatah Syukur (2002), menyampaikan bahwa hasil penelusuran sejarah ditemukan sejumlah bukti kuat yang menunjukkan bahwa cikal bakal pendirian pesantren pada awal ini terdapat di daerah-daerah sepanjang pantai utara Jawa, seperti Giri (Gresik), Ampel Denta (Surabaya), Bonang (Tuban), Kudus, Lasem, dan Cirebon. Kota-kota tersebut pada waktu itu merupakan kota kosmopolitan yang menjadi jalur penghubung perdagangan dunia, sekaligus tempat persinggahan para pedagang dan muballig Islam yang datang dari Jazirah Arab seperti Hadramaut, Persia, dan Irak. (Dinamika Pesantren dan Madrasah Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002)
Lembaga pendidikan pada awal masuknya Islam belum bernama pesantrensebagaimana dikemukakan oleh Marwan Saridjo sebagai berikut: Pada abad ke-7 M. atau abad pertama hijriyah diketahui terdapat komunitas muslim di Indonesia (Peureulak), namun belum mengenal lembaga pendidikan pesantren. Lembaga pendidikan yang ada pada masa-masa awal itu adalah masjid atau yang lebih dikenal dengan nama meunasah di Aceh, tempat masyarakat muslim belajar agama. Lembaga pesantren seperti yang kita kenal sekarang berasal dari Jawa. Usaha dakwah yang lebih berhasil di Jawa terjadi pada abad ke-14 M yang dipimpin oleh Maulana Malik Ibrahim dari tanah Arab.
Menurut sejarah, Maulana Malik Ibrahim ini adalah keturunan Zainal Abidin (cicit Nabi Muhammad saw). Ia mendarat di pantai Jawa Timur bersama beberapa orang kawannya dan menetap di kota Gresik. Sehingga pada abad ke-15 telah terdapat banyak orang Islam di daerah itu yang terdiri dari orang-orang asing, terutama dari Arab dan India. Di Gresik, Maulāna Mālik Ibrāhīm tinggal menetap dan menyiarkan agama Islam sampai akhir hayatnya tahun 1419 M. Sebelum meninggal dunia,
Maulāna Mālik Ibrāhīm (1406-1419) berhasil mengkader para muballig dan di antara mereka kemudian dikenal juga dengan wali. Para wali inilah yang meneruskan penyiaran dan pendidikan Islam melalui pesantren. Maulana Malik Ibrahim dianggap sebagai perintis lahirnya pesantren di tanah air yang kemudian dilanjutkan oleh Sunan Ampel.
Mengenai sejarah berdirinya pesantren pertama atau tertua di Indonesia terdapat perbedaan pendapat di kalangan peneliti, baik nama pesantren maupun tahun berdirinya. Berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan oleh Depatremen Agama pada 1984-1985 diperoleh informasi bahwa pesantren tertua di Indonesia adalah Pesantren Jan Tanpes II di Pamekasan Madura yang didirikan pada tahun 1762. Tetapi data Departemen Agama ini ditolak oleh Mastuhu. Sedangkan menurut Martin van Bruinessen seperti dikutip Abdullah Aly bahwa Pesantren Tegalsari, salah satu desa di Ponorogo, Jawa Timur merupakan pesantren tertua di Indonesia yang didirikan tahun 1742 M.12 Perbedaan pendapat tersebut karena minimnya catatan sejarah pesantren yang menjelaskan tentang keberadaan pesantren.
Pondok Pesantren merupakan rangkaian kata yang terdiri dari pondok dan pesantren. Kata pondok (kamar, gubuk, rumah kecil) yang dipakai dalam bahasa Indonesia dengan menekankan kesederhanaan bangunannya. Ada pula kemungkinan bahwa kata pondok berasal dari bahasa arab “fundūk” yang berarti ruang tempat tidur, wisma atau hotel sederhana.
Pada umumunya pondok memang merupakan tempat penampungan sederhana bagi para pelajar yang jauh dari tempat asalnya. Sedangkan kata pesantren berasal dari kata dasar “santri” yang dibubuhi awalan “pe” dan akhiran “an” yang berarti tempat tinggal para santri. Menurut beberapa ahli, sebagaimana yang dikutip oleh Zamakhsyari antara lain: Jhons, menyatakan bahwa kata santri berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru mengaji. Sedangkan CC. Berg berpendapat bahwa istilah ini berasal dari istilah shastri yang dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu, atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu. Kata shastri berasal dari kata shastra yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama, atau bukubuku tentang ilmu pengetahuan.
Berdasarkan uraian tersebut jelas bahwa dari segi etimologi pondok pesantren merupakan satu lembaga kuno yang mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan agama. Ada sisi kesamaan (secara bahasa) antara pesantren yang ada dalam sejarah Hindu dengan pesantren yang lahir belakangan. Antara keduanya memiliki kesamaan prinsip pengajaran ilmu agama yang dilakukan dalam bentuk asrama.
Secara terminologi, KH. Imam Zarkasih mengartikan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama atau pondok, di mana kyai sebagai figur sentral, masjid sebagai pusat kegiatan yang menjiwainya, dan pengajaran agama Islam di bawah bimbingan kyai yang diikuti santri sebagai kegiatan utamanya.
Pesantren sekarang ini merupakan lembaga pendidikan Islam yang memiliki ciri khas tersendiri. Lembaga pesantren ini sebagai lembaga Islam tertua dalam sejarah Indonesia yang memiliki peran besar dalam proses keberlanjutan pendidikan nasional. KH. Abdurrahman Wahid, mendefinisikan pesantren secara teknis, pesantren adalah tempat di mana santri tinggal.
Definisi di atas menunjukkan betapa pentingnya pesantren sebagai sebuah totalitas lingkungan pendidikan dalam makna dan nuansanya secara menyeluruh. Pesantren bisa juga dikatakan sebagai laboratorium kehidupan, tempat para santri belajar hidup dan bermasyarakat dalam berbagai segi dan aspeknya.
Mengenai asal-usul dan latar belakang pesantren di Indonesia terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ahli sejarah.
a.         Pendapat yang menyebutkan bahwa pesantren berakar pada tradisi Islam sendiri, yaitu tradisi tarekat. Pandangan ini dikaitkan dengan fakta bahwa penyebaran Islam di Indonesia pada awalnya banyak dikenal dalam bentuk kegiatan tarekat dengan dipimpin oleh kyai. Salah satu kegiatan tarekat adalah mengadakan suluk, melakukan ibadah di masjid di bawah bimbingan kyai. Untuk keperluan tersebut, kyai menyediakan ruang-ruang khusus untuk menampung para santri sebelah kiri dan kanan masjid. Para pengikut tarekat selain diajarkan amalan-amalan tarekat mereka juga diajarkan kitab agama dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan agama Islam. Aktivitas mereka itu kemudian dinamakan pengajian. Perkembangan selanjutnya, lembaga pengajian ini tumbuh dan berkembang menjadi lembaga pesantren. Bahkan dari segi penamaan istilah pengajian merupakan istilah baku yang digunakan pesantren, baik salaf maupun khalaf.
b.        menyatakan bahwa kehadiran pesantren di Indonesia diilhami oleh lembaga pendidikan “kuttab”, yakni lembaga pendidikan pada masa kerajaan bani Umayyah yang semula hanya merupakan wahana atau lembaga baca dan tulis dengan sistem halaqah. Pada tahap berikutnya lembaga ini mengalami perkembangan pesat, karena didukung oleh iuran masyarakat serta adanya rencana-rencana yang harus dipatuhi oleh pendidik dan anak didik. Pendapat ini hampir sama dengan pendapat yang menyatakan pesantren diadopsi dari lembaga pendidikan Islam Timur-Tengah, yaitu al -Azhar di Kairo, Mesir.
c.         Pesantren yang ada sekarang merupakan pengambil-alihan dari sistem pesantren orang-orang Hindu di Nusantara pada masa sebelum Islam. Lembaga ini dimaksudkan sebagai tempat mengajarkan ajaran-ajaran agama Hindu serta tempat membina kader-kader penyebar agama tersebut. Pesantren merupakan kreasi sejarah anak bangsa setelah mengalami persentuhan budaya dengan budaya pra-Islam. Pesantren merupakan system pendidikan Islam yang memiliki kesamaan dengan system pendidikan Hindu-Budha. Pesantren disamakan dengan mandala dan asrama dalam khazanah lembaga pendidikan pra-Islam.

Pesantren merupakan sekumpulan komunitas independen yang pada awalnya mengisolasi diri di sebuah tempat yang jauh dari pusat perkotaan (pegunungan). Pada awal berkembangnya, ada dua fungsi pesantren, yaitu sebagai lembaga pendidikan dan sebagai lembaga penyiaran Islam. Fungsi utama itu masih melekat pada pesantren, walaupun pada perkembangan selanjutnya pesantren mengalami perubahan.
Pesantren di Indonesia tumbuh dan berkembang sangat pesat. Sepanjang abad ke 18 sampai dengan abad ke- 20, pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam semakin dirasakan keberadaannya oleh masyarakat secara luas, sehingga kemunculan pesantren ditengah masyarakat selalu direspon positif, Respon positif masyarakat tersebut dijelaskan oleh Zuhairani (1992), sebagai berikut:
Pesantren didirikan oleh seorang kiai dengan bantuan masyarakat dengan cara memperluas bangunan di sekitar surau, langgar atau masjid untuk tempat pengajian dan sekaligus asrama sebagai asrama bagi anak-anak. Dengan begitu anak-anak tidak perlu bolak-balik pulang ke rumah orang tua mereka. Anak-anak menetap tinggal bersama kiai. Mas‟ud (2006)
Perkembangan pesantren terhambat ketika Belanda datang ke Indonesia untuk menjajah. Hal ini terjadi karena pesantren bersikap nonkooperatif bahkan mengadakan konforontasi terhadap penjajah. Lingkungan pesantren merasa bahwa sesuatu yang berasal dari barat dan bersifat modern menyimpang dari ajaran Islam.
Di masa kolonial Belanda, pesantren sangat antipati terhadap westernisasi dan modernisme yang ditawarkan oleh Belanda. Akibat dari sikap tersebut, pemerintah kolonial mengadakan kontrol dan pengawasan yang ketat terhadap pesantren. Pemerintah Belanda mencurigai institusi pendidikan dan keagamaan pribumi yang digunakan untuk melatih para pejuang militan untuk melawan penjajah.




[1] Muh. Ramli, 2015. Peran Pesantren Dalam Membentuk Karakter Pemuda.Tesis. Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin Makassar

Peran Pesantren Dalam Membentuk Karakter Pemuda

Peran Pesantren Dalam Membentuk Karakter Pemuda[1]
Menurut Kozier Barbara peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu sistem. Peran di pengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seseorang pada situasi tertentu.
Peran adalah deskripsi sosial tentang siapa kita dan kita siapa. Peran menjadi bermakna ketika dikaitkan dengan orang lain, komunitas politik atau sosial. Peran adalah kombinasi posisi dan pengaruh. Menurut Horton dan Hunt (1993), peran (role) adalah perilaku yang diharapkan dari seseorang yang memiliki suatu status. Berbagai peran yang tergabung dan terkait pada satu status ini oleh Merton dinamakan perangkat peran. Dalam keranmgka besar, organisasi masyarakat, atau yang disebut sebagai struktur sosial, ditentukan oleh hakekat (nature) dari peran-peran ini, hubungan antara peran-peran tersebut, serta distribusi sumberdaya yang langka di antara orang-orang yang memainkannya.
Teori peran adalah perspektif dalam sosiologi dan psikologi sosial yang menganggap sebagian besar kegiatan sehari-hari menjadim pemeran dalam kategori sosial (misalnya ibu, manajer, guru). Setiap peran sosial adalah seperangkat hak, kewajiban, harapan, norma dan perilaku seseorang untuk menghadapi dan memenuhi. Model ini didasarkan pada pengamatan bahwa orang berperilaku dengan cara yang dapat diprediksi, dan bahwa perilaku individu adalah konteks tertentu, berdasarkan posisi sosial dan faktor lainnya. Teater adalah metafora sering digunakan untuk menggambarkan teori peran.
Peran adalah merupakan tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu sistem. Peran dipengaruhi oleh landasan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seseorang pada situasi sosial tertentu. Peran adalah suatu pola sikap, nilai dan tujuan yang diharapkan dari seseorang yang berdasarkan posisinya dimasyarakat. Posisi ini merupakan identifikasi dari status atau tempat seseorang dalam suatu sistem dan merupakan perwujudan aktualisasi diri.
Peran juga diartikan sebagai serangkian perilaku yang diharapkan oleh lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi individu dalam berbagai kelompok sosial. Peran merupakan salah satu komponen dari konsep diri (gambaran diri, ideal diri, harga diri, peran dan identitas diri).
Peran merupakan fungsi seseorang atau sesuatu dalam kehidupan.(Tim Penyusun, KBBI, Jakarta: Pusat Bahasa, 2008) Pondok pesantren berasal dari kata pondo dan pesantren. Pondok berasal dari kata bahasa Arab “funduk” yang berarti hotel atau asrama (Dhofier, 1994). sedangkan pesantren berasal dari kata santri yang dengan awalan “pe” dan akhiran “an” berarti tempat tinggal para santri. (Ziemek, 1994). Keduanya mempunyai konatasi yang sama, yakni menunjuk pada suatu kompleks untuk kediaman dan belajar santri.
Dengan demikian pondok pesantren dapat diartikan sebagai asrama tempat tinggal para santri. Pondok pesantren pertama kali di Indonesia dan di Jawa tepatnya di desa Gapura, Gresik didirikan oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim pada abad XV Masehi, yang berasal dari Gujarat, India, Pesantren mempunyai fungsi penting sebagai pusat pendidikan dan penyiaran agama Islam.
Maulana Malik Ibrahim mendidik sejumlah santri yang ditampung dan tinggal bersama dalam rumahnya di Gresik. (Saridjo, 1980) Tokoh yang dianggap berhasil mendidik ulama dan mengembangkan pondok pesantren adalah Sunan Ampel yang mendirikan pesantren di Kembang Kuning, Surabaya dan pada waktu pertama kali didirikan hanya memiliki tiga orang santri yaitu Wiryo Suroyo, Abu Hurairah dan Kyai Bangkuning. Selanjutnya Sunan Ampel mendirikan pondok pesantren di Ampel Denta, Surabaya, yang kemudian dikenal sebagai Sunan Ampel, misinya menyiarkan agama Islam mencapai sukses dan pesantrennya semakin lama semakin berpengaruh dan menjadi terkenal di seluruh Jawa Timur pada waktu itu. (A. Sunyoto, 1990).
Kata pesantren sebenarnya berakar dari kata santri yang menurut Prof. A.H. Johns, kata tersebut adalah bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji. Sedangkan CC.Berg berpendapat bahwa istilah tesebut berasal dari istilah shastri yang dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku‐buku suci agama Hindu, atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu. Kata Shastri berasal dari shastra yang berarti bukubuku suci, buku‐buku agama atau buku‐buku agama atau buku‐buku pengetahuan (Dhofier, 1994:18). Tetapi, walaupun istilah santri berdekatan dengan bahasa agama Hindu, namun di Indonesia kata yang kemudian berubah menjadi kata pesantren ini lazim digunakan dalam khasanah kelembagaan pendidikan Islam.
Secara terminologis, pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam.Umumnya, proses pendidikan pesantren berlangsung secara non klasikal, dimana seorang kyai mengajarkan ilmu agama Isalam kepada santri‐santri berdasarkan kitab‐kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh ulama abad pertengahan, dan para santri biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam pesantren tersebut. (Prasodjo, 1982:6). Kiai di sini adalah seorang guru yang menjadi tokoh sentral dalam pesantren, yang dari kemampuan pribadinya, pertumbuhan suatu pesantren tergantung padanya (Dhofier, 1994:55). Santri adalah murid‐murid yang sengaja menuntut ilmu di pesantren, baik ia bermukim di sana ataupun tidak.
Adapun istilah tradisional, ia berasal dari kata tradisi yang dalam khasanah bahasa Indonesiaberarti segala sesuatu seperti adat, kebiasaan, ajaran dan sebagainya, yang turun temurun dari nenek moyang (Poerwadarminta, 1982:1088). Ada pula yang menuturkan bahwa tradisi berasal dari kata traditum, yaitu segala sesuatu yang ditranmisikan, diwariskan oleh masa lalu ke masa sekarang. Dan ketika kata ini berubah menjadi kata tradisional yang berarti menurut adat, turun‐temurun, maka sebagaimana diketahui kata tradisional dipergunakan untuk mensifati sesuatu, misalnya kata tari atau pakaian tradisional, yaitu tari atau pakaian menurut adat atau yang diwarisi turun temurun. Dalam aspek‐aspek yang lain kita mengenal istilah‐istilah upacara tradisional, pengobatan tradisional dan sebagainya (Bawani, 1993:24).
Merujuk kepada pengertian‐pengertian di atas, pesantren tradisional bisa didefinisikan sebagai lembaga pendidikan Islam yang dikelola berdasarkan pola‐pola lama yang sengaja dilestarikan, pengajarannya menggunakan kurikulum yang diadopsi dari warisan masa sebelumnya dan dilakukan secara turun temurun.
Pendidikan Islam, secara kelembagaan, dalam catatan sejarah tampak dalam bentuk yang bervariasi. Di samping lembaga yang bersifat umum seperti masjid, terdapat lembaga‐lembaga lain yang mencerminkan kekhasan orientasinya. Secara umum, pada abad keempat Hijrah dikenal beberapa sistem pendidikan (Madaris AlTarbiyah) Islam. Hasan Abdul Al‐„Al, menyebutkan lima sistem dengan klasifikasi sebagai berikut; Sistem Pendidikan Mu‟tazilah, Sistem Pendidikan Ikhwan Al‐Shafa, Sistem Pendidkan Bercorak Filsafat, Sistemm Pendidikan Bercorak Tasawwuf, dan Sistem Pendidikan Bercorak Fiqh. Adapun Hassan Muhammad Hassan dan Nadiyah Muhammad Jamaluddin juga menyebutkan lima sistem, masing‐masing; system pendidikan bercorak teologi, sistem pendidikan bercorak syiah, system pendidkan bercorak filsafat, sistem pendidikan bercorak tasawwuf, dan sistem pendidikan bercorak fiqh dan al‐hadis.
Institusi yang dipakai masing‐masing golongan yaitu: (1) Failusuf, memakai nama Dar AlHikmah, AlMuntadiyat, Hawanit dan Warraaqiin. (2) Syi’iyyun, memakai nama Dar AlHikmah, Masaajid, (3) Mutashawwif, memakai nama AlZawaaya, AlRibath, AlMasaajid, dan Halaqat AlDzikr, (4) Mutakallimin,memakai nama AlMasajid, AlMaktabat, Hawanit, Alwarraqin, dan AlMuntadiyat, dan (5) Fuqaha’ dan AlMuhadditsin,mereka memakai nama AlKatatib, AlMadaris, dan AlMasajid.
Masing‐masing sistem di atas memiliki institusi yang khusus walaupun umumnya memanfaatkan masjid. Menurut Hassan dan Nadiyah institusi‐institusi itu terkait dengan pendidikan‐pendidikan yang dilakukan dan aliran‐aliran pemikiran Islam yang berkembang di dalamnya (Maksum, 1999:52). Cyril Glasse, dalam ensiklopedi Islamnya menulis bahwa dar
Alhikmah adalah sebuah akademiyang didirikan khalifah Fathimiyah , AlHakim (w.411/1021), di Kairo sebagai perluasan istananya,tempat ini juga tempat berkumpulnya kalangan cendekiawan dan sekaligus sebagai pusat penyiapan parada‟i (propagandis) untuk menyebarkan ajaran Syiah Ismailiyah (Glasse, 1999:71).
Adapun Zawiyah/Zawaya, di Afrika Utara istilah ini berarti sebuah tempat ibadah/sebuah masjid kecil, sebuah tempat pengasingan untuk kegiatan keagamaan, atau secara khusus tempat pertemuan para sufi untuk melaksanakan doa dan dzikir (Glasse, 1999:447). Sedangkan Ribath bersesuaian dengan zawiyah, tempat pertemuan para sufi. (Glasse, 1999:343).
Tempat‐tempat di atas kalau dicermati, awalnya bukan sebagai tempat yang secara khusus dibangun untuk sarana pendidikan, namun lebih dari sebuah implikasi dari fungsi masjid sebagai sentrum kegiatan masyarakat muslim, karena implikasi itu terus bertambah sehingga masjid menjadi multifungsi. Seiring dengan perkembangan itu peribadatan di masjid menjadi terganggu oleh suara bising dan kegaduhan yang ditimbulkan oleh proses pengajaran, sehingga dibangunlah kuttabkuttab sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan dan model inilah yang diadopsi oleh penyebar agama Islam di Indonesia menjadi pondok pesantren. Sebagaimana dikatakan George Makdisi, bahwa pesantren di Indonesia menyerupai madrasah‐madrasah di Baghdad pada abad 11‐12 M, terdiri dari masjid, asrama/pondok, dan kelas belajar (Maksum, 1999:80).
Dengan akar sejarah seperti itu, sebagian sarjana di Indonesia berasumsi bahwa tradisi pendidikan Islam di Indonesia tidak sepenuhnya khas Indonesia, kecuali hanya menambahkan muatan dan corak keislaman terhadap terhadap tradisi pendidikan yang sudah ada. Bahkan masuknya Islam tidak mengubah format penyelenggaraan yang sebelumya sudah ada dan mentradisi, namun yang paling pokok adalah materi yang dipelajari, bahasa, dan latar belakang pelajar‐pelajar (Sumanjuntak, 1973:24). Namun satu hal yang sepertinya sangat tersepekati adalah bahwa sejarah berdirinya pesantren sangat erat hubungannya dengan sejarah masuknya Islam di Indonesia (Bimbaga, 2003:7).
Secara historis, pesantren telah mendokumentasikan berbagai sejarah bangsa Indonesia, baik sejarah sosial budaya masyarakat Islam, ekonomi maupun politik bangsa Indonesia. sejak awal penyebaran Islam, pesantren menjadi saksi utama bagi penyebaran Islam Indonesia. Pesantren mampu membawa perubahan besar terhadap persepsi halayak nusantara tentang arti penting agama dan pendidikan.(Mujib, 2006). Sejak awal pertumbuhannya, fungsi utama pesantren adalah menyiapkan santri mendalami dan menguasai ilmu agama Islam atau lebih dikenal tafaqqahuh fi al-din, yang diharapkan dapat mencetak kader-kader ulama dan turut mencerdaskan masyarakat Indonesia dan melakukan dakwah menyebarkan agama Islam serta benteng pertahanan umat dalam bidang akhlak. (Depertemen Agama, 2004)
Sejalan dengan fungsi tersebut, materi yang diajarkan dalam pondok pesantren semuanya terdiri dari materi agama yang diambil dari kitab-kitab klasik yang berbahasa Arab atau lebih dikenal dengan kitab kuning. Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang memiliki akar kuat (indigenous) pada masyarakat muslim Indonesia, dalam perjalanannya mampu menjaga dan mempertahankan keberlangsungan dirinya (survival system) serta memiliki model pendidikan multi aspek Santri tidak hanya dididik menjadi seseorang yang mengerti ilmu agama, tetapi juga mendapat tempaan kepemimpinan yang alami, kemandirian, kesederhanaan, ketekunan, kebersamaan, kesetaraan, dan sikap positif lainnya. Modal inilah yang diharapkan melahirkan masyarakat yang berkualitas dan mandiri sebagai bentuk partisipasi pesantren dalam menyukseskan tujuan pembangunan nasional sekaligus berperan aktif dalam mencerdaskan bangsa sesuai yang diamatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945. (Haedari, 2004)
Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang memiliki akar kuat (indigenous) pada masyarakat muslim Indonesia, dalam perjalanannya mampu menjaga dan mempertahankan keberlangsungan dirinya (survival system) serta memiliki model pendidikan multi aspek. Santri tidak hanya dididik menjadi seseorang yang mengerti ilmu agama, tetapi juga mendapat tempaan kepemimpinan yang alami, kemandirian, kesederhanaan, ketekunan, kebersamaan, kesetaraan, dan sikap positif lainnya. Modal inilah yang diharapkan melahirkan masyarakat yang berkualitas dan mandiri sebagai bentuk partisipasi pesantren dalam menyukseskan tujuan pembangunan nasional sekaligus berperan aktif dalam mencerdaskan bangsa sesuai yang diamanatkan oleh Undangundang Dasar 1945.
Pesantren jika disandingkan dengan lembaga pendidikan yang pernah muncul di Indonesia, merupakan sistem pendidikan tertua dan dianggap sebagai produk budaya Indonesia. Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang dimulai sejak munculnya masyarakat Islam di Nusantara.
Pesantren dalam lintasan sejarah bangsa dinyatakan sebagai lembaga pendidikan asli Indonesia. beberapa abad kemudian penyelenggaraan pendidikan ini semakin teratur dengan munculnya tempat pengajian. Bentuk ini kemudian berkembang dengan pendirian tempat-tempat menginap para santri yang kemudian disebut pesantren. Meskipun bentuknya masih sangat sederhana, pada waktu itu pesantren merupakan satusatunya lembaga pendidikan yang terstruktur sehingga pendidikan ini dianggap sangat bergengsi. Di lembaga inilah kaum muslimin Indonesia mendalami doktrin dasar Islam, khususnya menyangkut praktek kehidupan keagamaan.



[1] Muh. Ramli, 2015. Peran Pesantren Dalam Membentuk Karakter Pemuda.Tesis. Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin Makassar

Senin, 22 Februari 2016

Meruqyah dan Mentalqin dengan Alat Elektronik ada dalilnya?

Ponpes Shdiqiin Wara` Meruqyah dan Mentalqin dengan Alat Elektronik ada dalilnya?
Guru ngaji  PP Shidiqiin Wara` YGNI 


Sebagai Muslim tiap diharuskan hidup sesuai dengan sunnah nabi, tiap golongan itu mempercayai dan menyakini pernyataan tersebut. Yang menjadi pertanyaan penafsirannya mengikuti golongan apa? Yang sering terjadi di wilayah kami dan lainnya bahwa selain golongan Salafi adalah sesat dan menyesatkan. Menurut Pimpinan Ponpes Shidiqiin Wara`, Raras Wuri mengatakan bahwa Pengakuan golongan Salafi yang mengaku paling selamat dan paling suci sudah diluar dalil al-quran, bahkan mereka bisa dikatakan sebagai orang-orang syirik (musyrik).

Berdasarkan pengalaman yang diketahuinya, Orang Salafi suka membid`ahkan dan mengkafirkan gologan lain selain Salafi. Namun tidak pernah melihat apa yang menjadi kebiasaan dan kegiatan mereka yang tidak sesuai sunnah nabi juga banyak dilakukan. Kalau diungkapkan kepada mereka tentu akan dijawab itukan hanaya OKNUM.
PP Shidiqiin Wara` YGNI Purwojati 


Seperti kejadian yang pernah diketahui oleh Raras Wuri bahwa ada orang yang kesurupan distelkan atau diperdengarkan murotal / bacaan alquran bukan diruqyah sendiri. Hal ini aneh karena kejadian ditempat wilayah kami padahal itu tidak ada dalilnya sedikitpun, Raras yang biasa meruqyah berdasarkan al-quran dan haditd dikafirkan dan dibid`ahkan oleh mereka padahal bacaan-bacaan sesuai dengan alquran hadits.

Kejadian kedua menurut Raras adalah ada seorang yang akan meninggal yang sudah mengalami sakit hampir setahun dan beberapa bulan tergeletak di tempat tidur ketika sedang sakaratul mautpun diperdengarkan murotal, itu juga tidak ada dalilnya sedikitpun. Padahal orang yang sakaratul maut pernah mengatakan Raras Wuri itu gila dan merusak Salafi khususnya di Purwojati. Padahal menurut Raras, Belum pernah mengatakan sebagai orang Salafi atau menjelek-jelekan salafi. Lebih lanjut dikatakan bahwa Bapaknya Raras Wuri yaitu Kyai Muhammad Syechan juga didatangi orang Salafi tersebut bahwa Beliau sesat dan menyesatkan sehingga harus segera bertobat. Raras dan Bapaknya sewaktu masih hidup mendoakan agar yang mengatakan itu diberi petujuk kalau tidak agar allah membuktikan kebenarannya, 
PP Shidiqiin Wara` melayani penyembuhan ruqiah syar`iyah

Sehingga Ketika orang Salafi tersebut mau meninggal diberi sakit yang tidak bisa sembuh-sembuh lumpuh dan lainnya sedangkan Kai Muhammad Syechan Mati dengan sakit sebentar pada hari Jumat. 

Dari hal itu maka perlu Raras Wuri membuat klarifikasi dan penjelasan tentang kami yang dituduh sesat menyesatkan dengan mereka yang mengaku paling benar namun tidak melakukan berdasarkan sunnah. Aneh

Sabtu, 30 Mei 2015

Hendaklah Kalian Bersama Orang yang BENAR dan HATI HATI

Ponpes Shidiqiin Wara`  Hendaklah Kalian Bersama Orang yang BENAR dan HATI HATI

A, Definisi Shidiqiin 



Dalil

Al-Quran


﴿ياَ أَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar (TQS at-Taubah [9]: 119).

B. Definisi Wara`

Wara secara bahasa berasal dari kata : وَرِعَ , يَرِع   diambil dari kata ( ورع )  yang berarti “menahan”atau “tergenggam”. Sedangkan secara istilah wara’mengandung pengertian menahan diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan madharat lalu menyeretnya kepada hal-hal yang haram dan syubhat. Orang yang wara disebut wari’un wa mutawari’un.


Terkait dengan gerak hati ini, Nabi Saw bersabda:
“Kebaikan adalah sesuatu yang jiwa merasa tenang dan hati merasa tenteram kepadanya, sedangkan dosa adalah sesuatu yang jiwa tidak merasa tenang dan hati tidak merasa tenteram kepadanya, sekalipun orang-orang memberikan berbagai komentar kepadamu.
Orang-orang yang memiliki kedudukan yang tinggi selalu bersikap preventif dengan berhati-hati dari sebagian yang halal yang bisa membawa kepada sesuatu yang makruh atau haram.

Diriwayatkan dari Rasulullah, beliau bersabda: “Seorang hamba tidak bisa mencapai derajat taqwa sehingga ia meninggalkan yang tidak dilarang karena khawatir dari sesuatu yang dilarang.”
Hadits : 
Rasul shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ
 Jadilah seorang yang wara’, niscaya engkau menjadi manusia yang paling (tinggi kualitas) ibadahnya (H.R Ibnu Majah, dinyatakan sebagai sanad yang hasan oleh alBushiri dalam Mishbahus Zujaajah)
Dan jika agama yang paling utama adalah sikap wara':
خَيْرُ دِيْنِكُمْ الوَرَعُ
"Sebaik-baik agamamu adalah sikap wara'"  (Shahih al-Jami' no. 3308.)

Dan dari Wabishah bin Ma’bad ra. dia berkata : Aku datang kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan?” Aku berkata,” Ya.” Beliau bersabda, “Bertanyalah kepada hatimu. Kebajikan adalah apa yang menjadikan tenang jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah apa yang menggelisahkan jiwa dan menimbulkan keraguan dalam hati, meskipun orang-orang terus membenarkanmu.” 
(Hadits hasan yang kami riwayatkan dari Musnad Imam Ahmad bin Hambal dan Musnad Imam Ad-Darimi dengan sanad hasan)

Dalam hadis lain Nabi  bersabda :
(( فَضْلُ الْعِلْمِ خَيْرٌ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ, وَخَيْرُ دِيْنِكُمْ الوَرَعُ ))
Artinya : “Keutamaan ilmu lebih baik dibandingkan keutamaan ibadah. Dan kebaikan agamamu adalah wara.”  
(Mundziri -semoga Allah merahmatinya- berkata: “Hadits ini sebagaimana yang terdapat dalam Sahih at-Targhib wa at-Tarhib I/103, diriwayatkan oleh at-Thabaroni di dalam kitab al-Ausaath dan al-Bazzar dengan sanad yang hasan.” Telah disahihkan oleh Syaikh al-Albani -semoga Allah merahmatinya- di dalam kitabnya Sahih al-Jami’ no.4214.)
Dari dalil-dalil diatas dapat kita lihat perintah yang sangat jelas bahwa Kita diperintahkan untuk bersatu besama-sama dengan orang yang Benar (SHIDIQIIN) dan orang yang hati-hati dalam beragama (Al-Wara`) 

Selasa, 03 Februari 2015

Kumpulan Shalawat Ahbaabul Musthafa

Shalawat Ahbaabul Musthafa

Kumpulan mp3 Ahbabul Musthofa ini merupakan Campuran dari jam'iyah Ahbabul Musthofa Kudus, Solo, Semarang, Jogja, Sragen dan Sebagainya wilayah Solo dan Sekitarnya maupun juga ada beberapa jamiyyah sejenis hadroh ahbabul musthofa yang juga saya tampilkan seperti Hadroh Gapura, Jap Assyifa dll..
Sebagian merupakan kiriman dari sahabat Sahabat Gema Sholawat di diskusi Group Gema Sholawat dan Koleksi Album VCD Ahbabul Musthofa, Ada Parakan Bersholawat, Pertamina Bersholawat, Jepara Bersholawat, Temanggung bersholawat, Sragen Bersholawat, Solo bersholawat, Lirboyo bersholawat, Pasuruan bersholawat dan Sebagainya..


Kumpulan Sholawat ini kami pilih tersendiri, Selamat Menikmati Lantunan Sholawat Ahbaabul Musthofa... Namun tidak bisa langsung kami tampilkan semua tapi bertahab.
1. Ahbaabul Musthofa - 'Ala Ya Allah - Busyrolana Download
2. Ahbaabul Musthofa - Ahlan Wasahlan BiNabi  Download 
3. Ahbaabul Musthofa - Alhamdulillah Download 
4. Ahbaabul Musthofa - Alhamudillahillaz (Suluk) Download
5. Ahbaabul Musthofa - Allahu Laillaha Illallah, Illahana ma a'dalak Download
6. Ahbaabul Musthofa - Allahummasolli'ala (Suluk)  Download
7. Ahbaabul Musthofa - Allahumasholli 'Ala Muhammad Download
8. Ahbaabul Musthofa - An Tudkhilana.mp3 Download
9. Ahbaabul Musthofa - Burdah (muhammadun).mp3 Download
10. Ahbaabul Musthofa - Burdah.mp3 Download
11. Ahbaabul Musthofa - Da'uni, Adimishola, Allahummasholli,Ya Thoiba Download 
12. Ahbaabul Musthofa - Illahana ma a'dalak Download
13. Ahbaabul Musthofa - Illahinas aluk Download
14. Ahbaabul Musthofa - Innafil Jannati Download
15. Ahbaabul Musthofa - Innal Qulub Download?
16. Ahbaabul Musthofa - Isyafa'lana Ya Habibana Download
17. Ahbaabul Musthofa - Khoirol Bariyah Download
18. Ahbaabul Musthofa - Marhaban Ya Romadhon  Download
19. Ahbaabul Musthofa - Nurul Musthofa  Download
20. Ahbaabul Musthofa - Qolalfatal Habsyi  Download  

21. Ahbaabul Musthofa - Robbi kholaq (slow) Download
22. Ahbaabul Musthofa - suluk ya Badrotim Download
23. Ahbaabul Musthofa -Man Yalumni Download
24. Ahbaabul musthofa ~ ya rosullalloh ya jaddal hasanain Download
25. Ahbabuul Musthofa - Almunawiriyyah Download
26. Ahbabuul Musthofa - Tholama Asyku Download
27. Ahbaabul Musthofa -Faayaa - Muqoddimah Habib syekh Download
28. Ahbabuul musthofa Kudus - sulu' Ya Kahdu min syidati (Shofa).Download
29. Ahbabuul Musthofa Kudus - (Shofa) Shlawatullahi Taghsya. Download
30. Ahbabul Musthofa Kudus - Sholatun Download
31. Ahbabul Musthofa - Habib Syech - Man Yalumni  Kudus Download
32. Ahbabuul Musthofa - Syair Gus Dur - Shofa  Kudus. Download
33. Ahbabuul Musthofa - Ilahana Ilahana. Download
34. Ahbabuul Musthofa - Padang Bulan. Download
35. Ahbabuul Musthofa - Robbana Sholli. Download
36. Ahbabuul Musthofa - Robbi Kholaq Thoha.Download
37. Ahbabuul Musthofa - Ya Allah Ya Allahu Ya Rahman Download
38. Ahbabuul Musthofa - Sholla Alaikallahu Ya Adnani. Download
39. Ahbabuul Musthofa - Innal Qulub Annabi SholluAlaih Ya Robbama. Download
40. Ahbabuul Musthofa - Wulidal Huda (new jimbe). Download
41. Ahbabuul Musthofa - Ghuroba Download
42.Ahbabuul Musthofa - MaulayaSholli (versi indo) Download
43. Ahbabuul Musthofa - Khoirol Bariyah (new). Download
44. Ahbabuul Musthofa - Al Munawwiriyyah. Download
45. Ahbabuul Musthofa -Ya Dzalghina.sofa. Download 
46. Ahbabuul Musthofa - Ala Ya Rosulallah sofa feat ghofur Download
47. Ahbabuul Musthofa - muhammadun.khafidzin Download
48. Ahbabuul Musthofa -.suluk najaka qolbi.ya Habibal Qolb.Budin  Download
49. Ahbabuul Musthofa - suluk ala ya rosulallah.ilahana-choirul anwarDownload 
50. Ahbabuul Musthofa - suluk Gholal fatal.ya Sayyidi-Nana Download
51. Ahbabuul Musthofa - Ala Ya Rasulallah , Ilahinasaluk - AM (WAHID) Download
52. Ahbabuul Musthofa - Allahu Allah - SOLORAYA Download
53. Ahbabuul Musthofa - Wulidal Huda - AM (WAHID)Download
54. Ahbabuul Musthofa - Sholatullahi Tagsya Download
55. Ahbabuul Musthofa - Ya RasulallahsalamualaikDownload
sumberhttp://aswajaklaten.blogspot.com/2013/08/kumpulan-shalawat-ahbaabul-musthafa.html

DUKUNG PENDIRIAN MARKAS YGNI BANYUMAS-PROGRESS REPORT: DANA TERKUMPUL 25,6 JUTA DARI 350 JUTA-SELURUH DANA DARI BP_MAKMUR

Logo Baru YGNI Banyumas

Logo Baru YGNI Banyumas
Perubahan Logo Baru YGNI Banyumas