Rabu, 25 Mei 2016

Jenis-jenis Pondok Pesantren

Jenis-jenis Pondok Pesantren
Diambil dari Tesis: Peran Pesantren dalam Membentuk Karakter Pemuda[1]
Jenis-jenis pondok pesantren ada empat bagian yaitu: a) pondok pesantren dilihat dari sarana dan prasarana, b) pondok pesantren dilihat dari ilmu yang diajarka, c) pondok pesantren dilihat dari jumlah santri, dan d) pondok pesantren dilihat dari bidang pengetahuan. Keempat jenis pondok pesantren itu dijelaskan sebagai berikut: a). Pondok pesantren dilihat dari sarana dan prasarana.
Pondok pesantren dilihat dari sarana dan prasarana merupakan jenis pondok pesantren yang menggambarkan bahwa secara umum pondok pesantren memiliki sarana dan prasarana antara lain; a. tempat tinggal kiai, b. tempat tinggal santri, c. tempat belajar bernama, d. tempat ibadah, e. tempat memasak (dapur) santri, dan lain. Kelengkapan sarana dan prasarana pondok pesantren yang satu dengan yang lain bisa jadi berbeda.
I.              Pondok pesantren dilihat dari sarana prasarana memiliki beberapa variasi bentuk atau model yang secara garis besar dikelompokkan ada tiga tipe, yaitu:
A.      Pesantren tipe A, memiliki ciri-ciri:
1.    Para santri belajar dan menetap di pesantren
2.    Kurikulum tidak tertulis secara ekspilisit, tetapi berupa hidden kurikulum (kurikulum tersembunyi yang ada pada benak kiai)
3.    Pola pembelajaran menggunakan pembelajaran asli milik pesantren (sorogan, bandongan dan lainnya)
4.    Tidak menyelenggarakan pendidikan dengan system madrasah.
B.       Pesantren tipe B, memiliki ciri-ciri:
1.    Para santri tinggal dalam pondok asrama
2.    Pemanduan antara pola pembelajaran asli pesantren dengan sistem madrasah/ sistem sekolah.
3.    terdapat kurikulum yang jelas.
4.    memiliki tempat khsus yang berfungsi sebagai sekolah/madrasah
C.       Pesantren tipe C, memiliki ciri-ciri:
1.    Pesantren hanya semata-mata tempat tinggal bagi para santri
2.    Para santri belajar dimadrasah atau sekolah yang letaknya diluar bukan milik pesantren.
3.    Waktu belajar di pesantren biasanya malam atau siang hari pada saat santri tidak belajar di sekolah/madrasah (ketika mereka berada di pondok/asrama).
4.    Pada umumnya tidak terprogram dalam kurikulum yang jelas dan baku.
Apapun bentuk dan tipenya, sebuah institusi dapat disebut sebgai Pondok Pesantren apabila memiliki sekurang-kurangnya tiga unsur pokok, yaitu: (1) adanya kiai yang memberikan pengajaran, (2) para santri yang belajar dan tinggal di pondok, dan (3) adanya masjid sebagai tempat ibadah dan tempat mengaji.
    II.            Pondok pesantren dilihat dari ilmu yang diajarkan.
Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan pesantren yang begitu pesat, maka pesantren diklasifikasikan menjadi 3 macam yaitu, a. Pesantren Tradisional (salafiyah) b. Pesantren Modern (khalifiyah) dan c. Pesantren Komprehensuf sebagai berikut ini.
A.      Pesantren tradisional (Salafiyah)
Pesantren tradisional (salaifiyah) yaitu pesantren yang masih tetap mempertahankan bentuk aslinya dengan semata-mata mengajarkan kitab yang ditulis oleh ulama abad ke 15 M dengan menggunakan bahsa Arab. pola pengajarannya dengan menggunakan sistem “halaqah”, artinya diskusi untuk memahami isi kitab bukan untuk mempertanyakan kumungkinan benar salahnya yang diajarkan oleh kitab, tetapi untuk memahami apa maksud yang diajarkan oleh kitab. Santri yakin bahwa kiai tidak akan mengajarkan hal-hal yang salah, dan mereka yakin bahwa isi kitab yang di pelajai benar (Mastuhu, 1994)
Kurikulumnya tergantung sepenuhnya kepada para kiai pengasuhn pondoknya. Santri ada yang menetap didalam pondok (santri mukim, dan santri yang tidak menetap di dalam pondok (santri kalong). Sedangkan sistem madrasah (schooling) diterapkan hanya untuk memudahkan sistem soorogan yang dipakai dalam lembaga-lembaga pengajian bentuk lama, tanpa mengenalkan pelajaran umum. (Dhofier, 1994) Disamping sistem sorogan juga menerapkan sistem bandongan. (W. Bakhtiar, 1990). Contoh dari pesantren salaf antara lain adalah Pesantren Lirboyo dan Pesantren Ploso di Kediri, Pesantren Tremas si Pacitan, Pesatren Maslahul Huda di Pati, Pesantren An-Nur di Sewon Bantul dab Pesantren Mukhataj di Mojo tengah Wonosobo. (Dhofier, 1994)
B.       Pesantren Modern (Khalafiyah)
Pesantren Modern (Khalafiyah) yaitu pondok pesantren yang berusaha mengintegrasikan secara penuh sistem klasikal dan sekolah kedalam pondok pesantren. Pengajian kitab-kitab klasik tidak lagi menonjol, bahkan ada yang hanya sekedar pelengkap, tetapi berubah menjadi mata pelajaran atau bidang studi.
Perkembangan ini sangat menarik untuk diamati sebab hal ini akan mengetahui keseluruhan sistem tradisi pesantren, baik system kemasyarakatan, agama, dan pandangan hidup. Homogenetis kultural dan keagamaan akan semakin menurun dengan keanekaragaman dan kompleksitas perkembangan masyarakat. Indonesia modern. Namun demikian hal yang lebih menarik lagi adalah kelihatannya para kiai telah siap menghadapi perkembangan jaman. (Dhofier, 1994)
Meskipun demikian kurikulum Pesantren Modern (khilafiyah) memasukkan pengetahuan umum di pondok pesantren, akan tetapi tetap dikaitkan dengan ajaran agama. Sebagai contoh ilmu sosial dan politik, pelajaran ini selalu dikaitkan dengan ajaran agama.
C.       Pondok Pesantern Komprehensif
Pondok pesantern komprehensif yaitu pondok pesantren yang menggabungkan sistem pendidikan dan pengajaran antara yang tradisional dan yang modern. Artinya di dalamnya diterapkan pendidikan dan pengajaran kitab kuning dengan metode sorogan, bandongan dan wetonan, namun secara reguler sistem persekolahan terus dikembangkan.
Lebih jauh daripada itu pendidikan masyarakatpun menjadi garapannya, kebesaran pesantren dengan akan terwujud bersamaan dengan meningkat-nya kapasitas pengelola pesantren dan jangkauan programnya di masyarakat. Karakter pesantren yang demikian inilah yang dapat dipakai untuk memahami watak pesantren sebgai lembaga penberdayaan masyarakat. (M.D. Nafi‟. 2007)
III.               Pondok Pesantren dilihat dari jumlah santrinya.
Pondok pesantren dilihat dari jumlah santrinya merupakan jenis pondok pesantren yang mengganbarkan termasuk pondok pesantren besar, pondok pesantren menegah, dan pondok pesantren kecil. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan Dhofier bahwa pesantren dibagi menjadi 3 kelompok yaitu:
1.    Pondok pesantren yang memiliki jumlah santri lebih besar dari 2000 orang termasuk pondok pesantren besar. Contoh dari pondok pesantren ini adalah Lirboyo, dan Ploso di Kediri, Gontor Ponorogo, Tebuireng, Denayer Jombang, As-Syafiyah Jakarta dan sebgainya. Pondok jenis ini biasanya berskala nasional. Bahkan pondok modern Gontor Ponorogo mempunyai santri yang berasal dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, dan Brunai.
2.    Pondok pesantren yang memiliki jumlah santri anatara 1000 sampai 2000 orang termasuk pondok pesantren menegah.Contoh dari pondok pesantren ini adalah Maslakul Huda Kajen-Pati. Pondok pesantren ini biasanya regional.
3.    Pondok pesantren yang memiliki santri kurang dari 1000 orang termasuk pesantren kecil, Contoh pondok pesantren jenis ini adalah Tegalsari (salatiga), Kencong dan Jampes di Kediri. Pondok pesantren ini biasanya berskala lokal pondok. (Dhofier, 1994)
IV.          Pondok Pesantren dilihat dari bidang pengetahuan.
Pondok pesantren dilihat dari bidang pengetahuan merupakan jenis pondok pesantren yang menggambarkan kajian pengetahuan yang ada pada pesantren tersebut dibagi menjadi tiga jenis. Ketiga jenis pesantren tersebut adalahh (1) Pondok pesantren tasawuf: jenis pesantren ini pada umumnya mengajarkan pada santriyan untuk selalu menghambakan diri kepada Allah sang pencipta, dan banyak bermunajat kepada-Nya. Contoh pondok PETA Tulungagung, pondok Bambu Runcing Parakan, (2) Pondok pesantren fiqh: jenis pesantren ini pada umumnya lebih menekankan kepada santri untuk menguasai ilmu fiqh atau hukum Islam, sehingga diharapkan santri lulusanya dapat menyelesaikan permasalahan hidup berdasarkan hukum Islam. Contohnya pondok pesantren Lagitan Tuban, (3) Pondok pesantren alat: jenis pesaantren ini pada umumnya lebih mengutamakan pengajaran tentang gramatika bahasa Arab dan pengetahuan filologis dan etimologis, dengan pelajaran utama Nahwu dan Syaoraf (E.S. Nadji, 1985)



[1] Muh. Ramli, 2015. Peran Pesantren Dalam Membentuk Karakter Pemuda.Tesis. Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin Makassar

0 komentar:

Posting Komentar

DUKUNG PENDIRIAN MARKAS YGNI BANYUMAS-PROGRESS REPORT: DANA TERKUMPUL 25,6 JUTA DARI 350 JUTA-SELURUH DANA DARI BP_MAKMUR

Logo Baru YGNI Banyumas

Logo Baru YGNI Banyumas
Perubahan Logo Baru YGNI Banyumas