Siswa Diniyah Athfal Ponpes Shidiqiin Wara`

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Niat dari Pendiri dan Pengasuh adalah Jihad

Melalui PP Shidiqiin Wara`Pendiri dan Pengasuh PPSW berniat Jihad di Jalan Allah meninggikan Kalimat Allah.

Halangan dan Tantanga Dakwah PP Shidiqiin Wara` 3

Setiap Halangan dan Tantangan dilalui dengan Sabar sehingga PPSW berjalan puluhan tahun.

Kyai Muhammad Syechan Pendiri PP Shidiqiin Wara`

Tenaga.Pikiran dan Harta untuk Dakwah di Lingungan Purwojati Melalui PP Shidiqiin Wara`.

Pager Bangsa-Pengajian Gerakan Kebangsaan 5

Pager Bangsa diadakan pertama kali untuk anggota Pemuda Pakarti Purwojati dalam ikut membangun NKRI.

Kamis, 15 Desember 2011

Membid`ahkan Dzikir Keras dan Berjamaah Setelah Sholat-Ikut Siapa?

Siapakah sebenarnya yang mereka ikuti : Membid`ahkan Dzikir Keras dan Berjamaah Setelah Sholat

Dalam tulisan kami sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/07/klaim-mereka/ telah disampaikan oleh Fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta` (Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa)  kerajaan dinasti Saudi bahwa Imam Baihaqi, Imam Nawawi maupun Ibnu Hajar dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat tentang sifat Allah telah terjatuh/tergelincir pada penakwilan terhadap  sifat-sifat Allah. Pendapat mereka bahwa pemahaman tersebut tidak sesuai dengan pemahaman Salafush Sholeh. Pada kenyataanya yang dimaksud oleh mereka tidak sesuai dengan pemahaman Salafush Sholeh adalah tidak sesuai dengan pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah dan para pengikutnya  dalam memahami lafaz/tulisan perkataan Salafush Sholeh.

Pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah dan para pengikutnya dengan istilah mereka sebagai "tanpa tahrif , tanpa tathil, tanpa tamstil/tasybih dan tanpa takyif"  pada dasarnya adalah memahami ayat-ayat mutasyabihat tentang sifat Allah berdasarkan pemahaman secara dzahir atau secara harfiah yang kami sebut sebagai pemahaman dengan metodologi “terjemahkan saja” sebagaimana yang telah disampaikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/07/2011/02/02/terjemahkan-saja/  Padahal ulama-ulama terdahulu telah memperingatkan kita antara lain

Imam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir secara pasti.”

Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.

Begitupula kita seharusnya memperhatikan peringatan yang disampaikan oleh khataman Khulafaur Rasyidin, Imam Sayyidina Ali ra dalam riwayat berikut,

Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra berkata : “Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir.“

Seseorang bertanya kepadanya : “Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?”

Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra menjawab : “Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah Subhanahu wa ta’ala) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan.” (Imam Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi (w. 725 H) dalam Kitab Najm Al-Muhtadi Wa Rajm Al-Mu’tadi).

Tulisan kali ini menyoroti kembali fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta` (Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa)  kerajaan dinasti Saudi   yang disampaikan oleh Ustadz Abu Karimah 'Askari bin Jamal Al Bugisi, Murid Ulama Muqbil bin Hadi Al Wadi'i, Yaman. Ustadz Abu Karimah ‘Askari adalah yang berselisih pemahaman dengan ustadz Firanda walaupun mereka berdua sama mengaku-aku mengikuti pemahaman  Salafush Sholeh sebagaimana terurai dalam tulisan pada http://www.salafybpp.com/categoryblog/97-dusta-firanda-ditengah-badai-fitnah-yang-sedang-melanda-bag1.html 

Fatwa Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa  yang disampaikan oleh Ustadz Abu Karimah, kami ambil dari dari situs : http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=33

Berikut kutipannya,

***** awal kutipan *****

Jawab: "Do'a jama'i setelah Imam mengucapkan salam dengan serempak, tidak ada asalnya yang menunjukkan bahwa amalan ini disyari'atkan. Dan Dewan Riset dan Fatwa memberikan jawaban sebegai berikut:

"Do'a sesudah shalat fardlu dengan mengangkat kedua tangan baik oleh Imam maupun ma`mum, sendirian atau bersama-sama, bukanlah sunnah. Amalan ini adalah bid'ah yang tidak ada keterangannya sedikitpun dari Nabi shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam dan para sahabatnya radliyallahu 'anhum. Adapun do'a tanpa hal-hal demikian, boleh dilakukan karena memang ada keterangannya dalam beberapa hadits. Wabillahi taufiq. Semoga shalawat tetap tercurah kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya. (Lajnah Daimah).

Pada bagian lain, Lajnah menjawab:"Do'a dengan suara keras setelah shalat lima waktu, ataupun sunnah rawatib. Atau do'a-do'a sesudahnya dengan cara berjama'ah dan terus-menerus dikerjakan merupakan perbuatan bid'ah yang munkar. Tidak ada keterangan sedikitpun dari Nabi shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa sallam tentang hal ini, juga para sahabatnya radliyallahu 'anhum. Barangsiapa yang berdo'a setelah selesai shalat fardlu atau sunnah rawatibnya dengan cara berjama'ah, maka ini adalah menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Dan apabila mereka menganggap orang yang mengingkari hal ini atau tidak berbuat sebagaimana yang mereka lakukan sebagai orang kafir atau bukan Ahlus Sunnah wal Jama'ah, maka ini adalah kebodohan dan kesesatan serta memutarbalikkan kenyataan yang ada. (Lajnah Daimah, lihat Fatwa Islamiyah 1/318-319)

*****  akhir kutipan  *****

Namun disisi lain kami mendapatkan keterangan dari http://www.voa-islam.com/islamia/ibadah/2011/01/12/12739/menjaharkan-dzikir-sesudah-shalat-fardhu-ternyata-sunnah/  sebagai berikut

***** awal kutipan *****

Fatwa Syaikh Ibnu Bazz
Al-‘Allamah Syaikh  Ibnu Bazz pernah ditanya tentang sunnah dzikir sesudah shalat, mana yang sesuai sunnah, mengeraskan dzikir atau melirihkannya?

Beliau menjawab: Yang sunnah adalah menjaharkan dzikir sesudah shalat lima waktu dan sesudah shalat Jum’at ba’da salam. Hal itu didasarkan hadits dalam Shahihain, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma bahwa mengeraskan suara dzikir sesudah manusia selesai melaksanakan shalat wajib sudah ada pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Ibnu Abbas berkata, “Aku mengetahui kalau mereka sudah selesai shalat apabila aku mendengarnya.” (Kumpulan pertanyaan yang ditujukan kepada Syaikh Ibnu Bazz oleh Muhammad al-Syayi’)

Dalam Jawaban lain, beliau berkata: “Telah disebutkan dalam kitab shahihain, dari riwayatnya Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, “Sesungguhnya mengeraskan dzikir saat selesai dari shalat wajib, itu telah ada di masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam“. Ibnu Abbas juga mengatakan: “Aku tahu selesainya shalat mereka itu, saat aku mendengar (suara dzikir) itu.

Hadits shahih ini dan hadits-hadits semakna lainnya yang berasal dari hadits Ibnu Zubair, dan Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu 'anhuma dan lainnya, semuanya menunjukkan disyariatkannya mengeraskan dzikir ketika orang-orang selesai shalat wajib, yang kira-kira sampai terdengar oleh orang-orang yang berada di pintu-pintu dan di sekitar masjid, sehingga mereka tahu selesainya shalat (jama’ah) dengan (kerasnya suara dzikir) itu. (Tapi) bagi orang yang didekatnya ada orang lain yang sedang menyelesaikan shalatnya, maka sebaiknya ia memelankan sedikit suaranya, agar tidak mengganggu mereka, karena adanya dalil-dalil lain yang menerangkan hal itu.

Dalam tuntunan mengeraskan dzikir ketika para jamaah selesai shalat wajib ini, ada banyak manfaat, diantaranya:

1. Menampakkan pujian kepada Allah Ta’ala yang telah memberikan mereka kenikmatan bisa menjalankan kewajiban yang agung ini.

2. Dan (sebagai sarana untuk) mengajari orang yang jahil dan mengingatkan orang yang lupa. Jika saja tidak ada hal itu, tentunya sunnah ini akan jadi samar bagi banyak orang. Wallahu waliyyut taufiq.

Syaikh Shalih al-Fauzan

Beliau ditanya tentang menjaharkan doa dan dzikir secara umum, dan sesudah shalat secara khusus? Apakah doa dan dzikir itu dengan keras, lirih, atau di antara keduanya?

Beliau menjawab, “Doa yang dicontohkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan yang disyari’atkan, seseorang diberi pilihan antara menjaharkannya atau melirihkannya. Allah Ta’ala berfirman,

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (QS. Al-a’raf: 55)

Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala mengetahui yang lirih dan tersembunyi. Engkau boleh berdoa dengan keras dan lirih, kecuali apabila menjaharkannya bisa mengganggu orang disekitarmu; yang tidur, shalat, atau yang sedang membaca Al-Qur’an al-Karim, maka engkau harus melirihkan suaramu. Atau apabila kamu takut tumbuh riya’ dan sum’ah dalam dirimu, maka engkau lirihkan suaramu dalam berdoa, karena hal ini lebih bisa menjadikan ikhlas.

Perlu diperhatikan, bahwa mengeraskan di sini bukan dengan suara bersama-sama (koor), sebagaimana yang dilakukan sebagian orang. Setiap orang berdoa untuk dirinya dengan lirih dan keras. Adapun berdoa dengan berjama’ah (bersama-sama), maka termasuk bid’ah.

Sedangkan dzikir sesudah shalat, maka yang sunnah adalah menjaharkannya sesuai dengan hadits-hadits shahih yang menyebutkan bahwa para sahabat menjaharkan dzikir sesudah shalat; tahlil dan ihtighfar sesudah salam sebanyak tiga kali, lalu membaca:

اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

sampai akhir dari dzikir-dzikir yang dicontohkan, maka membacanya dengan keras. Tapi dengan sendiri-sendiri, bukan dengan berjamaah (bersama-sama) sebagaimana yang kami sebutkan di awal. Dzikir berjama’ah ini termasuk perkara bid’ah (yang diada-adakan). Setiap orang berdzikir sendiri-sendiri dan mengeraskannya sesudah shalat.” (al-Muntaqa’ min Fatawa al-Fauzan: Juz 3)

*****  akhir kutipan *****

Pada kesimpulan akhirnya penulis tulisan tersebut menuliskan “Pendapat yang menganjurkan untuk mengeraskan dzikir sesudah shalat sesuai dengan dzahir hadits. Maka, sebagaimana kaidah Ushul Fiqih bahwa makna dzahir harus lebih didahulukan dan diamalkan sehingga ada dalil kuat lainnya yang me-nasakh-nya, atau men-takhshish-nya atau men-takwil-nya. Dan tidak didapatkan adanya dalil kuat yang menerangkan, bahwa dikeraskannya dzikir setelah shalat wajib itu hanya untuk sementara waktu saja.”

Jadi kesimpulan mereka dengan cara memaknai hadits secara dzahir (harfiah) atau  sebagaimana yang tertulis maka sunnah Rasulullah adalah mengeraskan dzikir sesudah shalat secara sendiri-sendiri dan tidak secara berjam’ah.

Bagaimana kenyataannya ?

Apakah mereka ada mengikuti sunnah Rasulullah mengeraskan dzikir secara sendiri-sendiri ?

Apakah mereka lebih memilih melirihkan dzikir daripada sunnah Rasulullah mengeraskan dzikir?

Ataukah mereka ada yang beranggapan sunnah Rasulullah mengeraskan dzikir bertentangan dengan firman Allah ta’ala yang artinya “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (QS. Al-a’raf: 55)

Dzikir berjamaah  adalah tolong menolong dalam amal kebaikan. Jika salah satu saja peserta atau pemimpin dzikir dapat menghantarkan dzikir sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla maka seluruh peserta dzikir akan mendapatkan kebaikannya bahkan orang yang hanya sekedar duduk bergabung dalam dzikir berjamaah tersebut juga akan mendapatkan kebaikan.

Dalam sebuah hadits qudsi Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Nabi Shalllahu alaihi wasallam bersabda

“Sesungguhnya Allah SWT memiliki beberapa malaikat yang seringkali berkeliling untuk mencari majelis orang-orang berzikir. Maka,ketika mereka menemukan sekelompok orang yang berzikir, para malaikat menghampiri mereka dan saling mengepakkan sayapnya sembari berputar-putar hingga mereka berada di antara ahli zikir dan langit. Saat orang-orang yang berzikir itu bubar, para malaikat kembali dan naik ke langit. Kemudian Allah bertanya kepada para malaikat – sedangkan Allah lebih mengetahui daripada mereka,'Kalian datang dari mana?' Mereka menjawab, 'Kami datang dari majelis hamba-hamba-Mu di bumi. Mereka bertasbih, bertahlil, bertakbir, bertahmid, bertahlil dan berdo'a kepada Engkau' Allah bertanya,'Apa yang mereka minta kepada-Ku?' Para malaikat menjawab, 'Mereka mengharap surga-Mu.'Allah berkata, 'Apakah mereka bisa melihat surga-Ku?' Para malaikat menjawab, 'Tidak, wahai Tuhan.' Allah berfirman, 'Bagaimana jika mereka bisa melihat surga-Ku?' Malaikat menjawab, 'Mereka akan memohon perlindungan kepada Engkau.' Allah bertanya, 'Meminta perlindungan dari apa?' Mereka menjawab, 'Dari neraka, wahai Tuhan.' Allah bertanya, 'Apakah mereka melihat neraka-Ku?' Para malaikat menjawab, 'Tidak,wahai Tuhan.' Allah bertanya, 'Bagaimana jika mereka bisa melihatnya?' Para malaikat menjawab, 'Mereka akan memohon ampunan-Mu.' Allah berfirman, 'Aku telah mengampuni dosa mereka, mengabulkan permintaan mereka, dan memberikan perlindungan kepada mereka.' Para malaikat berkata, 'Ya Tuhan,di dalam majelis zikir itu terdapat fulan, ia sering melakukan perbuatan maksiat. Sebenarnya, ia hanya kebetulan lewat kemudian duduk bergabung dengan mereka.' Allah berfirman, 'Aku juga mengampuni dosanya. Mereka (ahli zikir) itu tidak tenodai oleh teman duduk mereka.” (HR Muslim) 

Cara paling mudah untuk mengetahui bagaimana sebenarnya yang telah dilakukan oleh Rasulullah dan para Salafush Sholeh adalah dengan mengetahui dzikir yang dilakukan oleh para Habib dan para Sayyid pada umumnya karena para Habib dan para Sayyid yang merupakan keturunan cucu Rasulullah, mereka mendapatkan pengajaran langsung dari orang tua-orang tua mereka terdahulu yang mendapatkan pengajaran langsung dari keluarga Rasulullah. Bahkan Imam Sayyidina Ali ra mendapatkan didikan langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Dalam masalah teknis pelaksanaan ibadah dapat kita analogikan dengan belajar berenang. Mana yang lebih baik hasilnya, belajar berenang melalui pemahaman tulisan/buku petunjuk cara berenang atau belajar berenang melalui didikan langsung oleh pelatih renang.

Begitupula dalam teknis pelaksanaan sholat segelintir umat Islam yang mengikuti berdasarkan pemahaman ulama Al Albani yang diperolehnya dari upaya beliau memahami lafaz/tulisan hadits sedangkan beliau tidak dikenal oleh jumhur ulama mempunyai kompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak sehingga kemungkinan kesalahpahamannya semakin besar.  Contoh pendapat ulama Al-Albani. (Kitab Sifat Shalat Nabi halaman 140) bahwa menggerakkan jari dilakukan sepanjang membaca lafadz Tasyahhud dengan contoh pada http://www.youtube.com/watch?v=ze8j_wX7Guw

Kajian selengkapnya tentang perihal berisyarat dengan jari telunjuk diuraikan dalam tulisan pada http://albanjari.eramulti.com/berisyarat-dengan-jari-telunjuk  . Terlebih lagi beliaupun ada mengingkari hadits Rasulullah sebagaimana contohnya yang diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/22/tidak-cukup/ dan terhadap hadits-hadit lain diuraikan dalam tulisan pada  http://mutiarazuhud.files.wordpress.com/2010/04/inilahahlussunnahwaljamaah.pdf

Lebih mudah dan selamat mengikuti teknis pelaksanaan sholat mengikuti apa yang dilakukan oleh para Habib dan para Sayyid karena mereka mendapatkan pengajaran langsung dari orang tua-orang tua mereka terdahulu yang mendapatkan pengajaran langsung dari keluarga Rasulullah. Bahkan Imam Sayyidina Ali ra mendapatkan didikan langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Kadang ketakutan umat Islam dalam mengikuti apa yang telah disampaikan oleh Imam Sayyidina Ali ra terlampau berlebihan yang semua itu dikarenakan fitnah orang dari kaum (zionis) Yahudi sehingga takut dikatakan sebagai pengikut Syiah khususnya mereka yang membenci Khulafaur Rasyidin lainnya. Sebagaimana yang ditanyakan oleh Imam ‘Ali رضي الله عنه berkata: aku bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah ciri-ciri mereka? Baginda صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم bersabda: “Mereka menyanjungimu dengan sesuatu yang tidak ada padamu

Padahal  Imam Sayyidina Ali ra adalah khataman Khulafaur Rasyidin yang menyampaikan secara mendalam dan rinci bagaimana cara mencapai muslim yang Ihsan.

Apakah Ihsan ?

قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11) Link: http://www.indoquran.com/index.php?surano=2&ayatno=3&action=display&option=com_muslim


Rasulullah bersabda “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada“. (HR. Ath Thobari)


Ada dua kondisi yang dicapai oleh muslim yang ihsan atau muslim yang telah berma’rifat

Kondisi minimal adalah mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla

Kondiri terbaik adalah mereka yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla dengan hati (ain bashiroh)


Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,

“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”

Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”

“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.

Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”


Sebuah riwayat dari Ja’far bin Muhammad beliau ditanya: “Apakah engkau melihat Tuhanmu ketika engkau menyembah-Nya?” Beliau menjawab: “Saya telah melihat Tuhan, baru saya sembah”. Bagaimana anda melihat-Nya? dia menjawab: “Tidak dilihat dengan mata yang memandang, tapi dilihat dengan hati yang penuh Iman.”

Muslim yang telah mencapai Ihsan atau muslim yang telah berma'rifat, minimal mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau yang terbaik mereka yang dapat melihat Allah dengan hati maka mereka mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar hingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah sesuai dengan tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla

Rasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).

Jadi pada hakikatnya ghazwul fikri yang dilakukan oleh kaum Zionis Yahudi melalui pusat-pusat kajian Islam yang mereka dirikan atau melalui orang-orang yang telah “dibentuk” oleh mereka adalah menjauhkan umat Islam dari apa yang telah disampaikan oleh Imam Sayyidina Ali ra atau dengan kata lain  menjauhkan umat Islam dari tentang Ihsan. Dari sinilah sumber terjadinya kerusakan akhlak pada segelintir kaum muslim sama bahayanya dengan upaya perusakan akhlak melalui pornografi, sex bebas, miras, narkoba, gaya hidup bebas, hedonisme, sekulerisme, pluralisme, liberalisme , dll .

Pengetahuan tentang Ihsan ada pada Tasawuf dalam Islam. Dalam kurikulum perguruan tinggi Islam, sejak dahulu kala,   tasawuf adalah pendidikan akhlak yakni jalan (thariqat) untuk menjadi muslim yang Ihsan. Hal ini telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/16/2010/06/07/pendidikan-akhlak/

Cobalah tanyakan kepada koruptor, apakah mereka takut dengan neraka. Pastilah mereka akan menjawab bahwa mereka takut akan siksa neraka. Namun mereka tidak takut bahwa perbuatan korupsi mereka telah dilihat Allah Azza wa Jalla karena mereka tidak pernah sampai pengetahuan tentang Ihsan sehingga mereka tidak mempunyai keyakinan bahwa segala sikap dan perbuatan mereka selalu dilihat oleh Allah Azza wa Jalla, setiap saat, dan Dia tidak tidur sebagaimana firmanNya yang artinya “Dia yang Maha Hidup, yang terus menerus mengurus (makhlukNya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik Nya apa yang dilangit dan apa yang di bumi” (Qs Al Baqarah [2]:255)

Begitupula dengan penguasa negeri kita yang telah diingatkan oleh para ulama bahwa “Negara dinilai tidak hadir untuk melindungi segenap kehidupan warganya. Bahkan retorika yang disampaikan pemerintah lebih banyak berbau kebohongan“. Bohong adalah tidak sesuai perkataan dengan kenyataannya.  Bohong adalah termasuk akhlak buruk dan yang melakukannya pada hakikatnya karena tidak tahu tentang Ihsan atau tidak meyakini bahwa sikap dan perbuatan mereka dilihat oleh Allah Azza wa Jalla.

Apakah penguasa negeri kita telah dengan nyata melindungi rakyatnya di Ambon, Papua maupun rakyatnya yang terkena bencana lumpur Sidoarjo ?

Bandingkanlah dengan akhlak yang diperlihatkan oleh  Khalfiah Umar ra berikut kutipannya

Khalifah Umar ra menjenguk ke dalam panci tersebut. Alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut. Sambil masih terbelalak tak percaya, Khalifah Umar ra berteriak, “Apakah kau memasak batu?”

Perempuan itu menjawab dengan menganggukkan kepala.

“Buat apa?”

Dengan suara lirih, perempuan itu kembali bersuara menjawab pertanyaan Umar, “Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum.

Lihatlah aku. Aku seorang janda miskin. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah petang tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.

Ibu itu diam sejenak. Kemudian ia melanjutkan, “Namun apa dayaku? Sungguh Khalifah Umar tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”

Dengan air mata berlinang Khalifah Umar bangkit dan mengajak Sahabatnya untuk kembali ke kota. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda tua yang sengsara itu.

Karena Khalifah Umar terlihat keletihan, Sahabatnya berkata, “Wahai Khalifah Umar, biarlah aku saja yang memikul karung itu….”

Dengan wajah merah padam, Khalifah Umar menjawab “Jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”

Begitu pula yang terjadi dengan pihak eksekutif, yudikatif, legislatif negeri ini. Pada hakikatnya kebijakan dan implementasinya dalam memenuhi amanat rakyat hanya berdasarkan kesepakatan di antara mereka semata. Mereka tidak menyadari tentang Ihsan, tidak menyadari bahwa Allah Azza wa Jalla melihat sikap dan perbuatan mereka.

Contohnya mereka telah menyetujui undang-undang nomor 44 tahun 2008 tentang pornografi pada tanggal 26 November 2008 namun kenyataannya keping-keping video porno masih saja tersebar dengan bebasnya di negeri tercinta ini. Mereka dapat terjerumus dalam kemunafikan, berbeda antara yang dikatakan dengan kenyataannya.

Begitupula dalam penegakkan hukum hanya berdasarkan interpretasi  dan kesepakatan antar manusia belaka menyesuaikan dengan kepentingan pihak yang akan “dimenangkan”. Bisa dilakukan dengan penggiringan “opini” maupun pencitraan hal ini sesuai dengan “target kerja” kaum Zionis Yahudi

Protokol Zionis yang kelimabelas

…Dibawah pengaruh kita, pelaksanaan hukum kaum non_yahudi harus dapat diredusir seminim mungkin. Penghormatan kepada hukum harus dirongrong dengan cara interpretasi sebebas mungkin sesuai dengan apa yang telah kita perkenalkan pada bidang ini. Pengadilan akan memutuskan apa yang kita dikte, bahkan dalam kasus-kasus yang mungkin mencakup prinsip-prinsip dasar atau isu-isu politik melalui jalur pendapat surat kabar dan jalur lainnya.

Oleh karenanya para penguasa negeri yang muslim sebaiknya janganlah menjadikan Amerika maupun sekutunya yang dibelakang mereka semua adalah kaum Zionis Yahudi sebagai "teman kepercayaan", penasehat, pelindung, pemimpin.

Taatilah para ulama yang terhimpun dalam Majelis Ulama, mereka yang mentaati Allah Azza wa Jalla dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Allah Azza wa Jalla memperingatkan kita dengan firmanNya yang artinya

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” , (QS Ali Imran, 118)

Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (QS Ali Imran, 119)

Ironis yang terjadi di wilayah kerajaan dinasti Saudi, mereka menjadikan Amerika sebagai teman kepercayaan, pelindung, penasehat. Contoh paling mudah untuk diketahui bahwa mereka menyusun kurikulum pendidikan agama bekerjasama dengan Amerika yang dibelakangnya adalah kaum Zionis Yahudi , sebagaimana yang terurai dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/02/07/muslim-bukanlah-ekstrimis/   Inilah salah satu "pintu masuk" ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi dan kesalahpahaman-kesalahpahaman tersebut menyebar luas ke negeri-negeri  kaum muslim melalui perantaraan beasiswa pendidikan di wilayah kerajaan dinasti Saudi.

Abuya Prof. DR. Assayyid Muhammad bin Alwi Almaliki Alhasani dalam makalahnya dalam pertemuan nasional dan dialog pemikiran yang kedua, 5 s.d. 9 Dzulqo’dah 1424 H di Makkah al Mukarromah, menyampaikan bahwa dalam kurikulum tauhid kelas tiga Tsanawiyah (SLTP) cetakan tahun 1424 Hijriyyah di Arab Saudi berisi klaim dan pernyataan bahwa kelompok Sufiyyah (aliran–aliran tasawuf) adalah syirik dan keluar dari agama. Kutipan makalah selengkapnya ada pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/08/18/ekstrem-dalam-pemikiran-agama/

Dalam beberapa tulisan berturut-turut, kami telah menghimbau untuk menggigit As Sunnah dan sunnah Khulafaur Rasyidin berdasarkan pemahaman pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid) / Imam Mazhab dan penjelasan dari para pengikut Imam Mazhab sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah.  Janganlah memahaminya dengan akal pikiran sendiri atau mengikut pemahaman ulama yang tidak dikenal berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/31/gigitlah-as-sunnah/

Sebaiknya kita mengambil ilmu dari mulut ulama bermazhab dan sholeh. Hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/02/dari-mulut-ulama/

Kita sebaiknya menghindari kitab ulama yang belajar sendiri dan tidak bermazhab hal ini telah kami uraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/11/03/kitab-tidak-bermazhab/

Salah satu cara mempertahankan sanad ilmu atau sanad guru adalah dengan mengikuti pendapat/pemahaman pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat dan penjelasan dari para pengikut Imam Mazhab sambil merujuk darimana mereka mengambil yaitu Al Quran dan as Sunnah.

Permasalahan yang terjadi pada Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta` (Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa)  adalah mereka tidak lagi mengikuti pendapat pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat.   Mereka lebih menyandarkan pada pemahaman ulama Ibnu Taimiyyah, ulama Ibnu Qoyyim Al Jauziah, ulama Muhammad bin Abdul Wahhab atau bahkan mungkin pemahaman ulama Al Albani, padahal mereka oleh jumhur ulama tidak dikenal berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak atau Imam Mazhab. Memang ada Imam Mazhab yang lain selain yang berempat namun pada akhirnya pendapat / pemahaman mereka karena tidak komprehensive atau tidak menyeluruh sehingga kaum muslim mencukupkannya pada Imam Mazhab yang empat.  Contoh ulama yang masih berpegang teguh kepada pemahaman/pendapat Imam Mazhab adalah Mufti Mesir Profesor Doktor Ali Jum`ah sebagaimana contoh yang terurai dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/30/hukum-penutup-muka/

Ulama yang tidak mau bermazhab , pada hakikatnya telah memutuskan rantai sanad ilmu atau sanad guru, berhenti pada akal pikirannya sendiri dimana didalamnya ada unsur hawa nafsu atau kepentingan


Sanad ilmu (sanad guru) sama pentingnya dengan sanad hadits.

Sanad hadits mempertanyakan atau menganalisa dari mana matan/redaksi hadits tersebut diperoleh sampai kepada lisannya Rasulullah

Sedangkan sanad ilmu (sanad guru) mempertanyakan atau menganalisa dari mana penjelasan Al Qur’an dan As Sunnah tersebut diperoleh sampai kepada lisannya Rasulullah


Sanad ini sangat penting, dan merupakan salah satu kebanggaan Islam dan umat. Karena sanad inilah Al-Qur’an dan Sunah Nabawiyah terjaga dari distorsi ataupun serangan ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilakukan kaum kafir dan munafik atau tercampurnya dengan hawa nafsu. Karena sanad inilah warisan Nabi tak dapat diputar balikkan.

Ibnul Mubarak berkata :”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 no:32 )

Imam Syafi’i ~rahimahullah mengatakan “tiada ilmu tanpa sanad”.

Al-Hafidh Imam Attsauri ~rahimullah mengatakan “Penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yang ingin naik ke atap rumah tanpa tangga

Bahkan Al-Imam Abu Yazid Al-Bustamiy , quddisa sirruh (Makna tafsir QS.Al-Kahfi 60) ;  “Barangsiapa tidak memiliki susunan guru dalam bimbingan agamanya, tidak ragu lagi niscaya gurunya syetan”  Tafsir Ruhul-Bayan Juz 5 hal. 203

Tulisan kali ini kami akhiri dengan nasehat Imam Mazhab tentang pentingnya tasawuf dalam Islam atau pentingnya pendidikan akhlak.

Imam Malik ra menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fikih (perkara syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia ., hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar” .

Imam Syafi’i ra menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?”

[Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]
Wassalam

Pesantren Salafiyah

Dalam tulisan sebelumnya pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/07/tragedi-darul-hadits/ dapat kita ambil pelajaran dari tragedi pada Universitas Darul Hadits Dammaj Yaman pertengkaran antara dua kelompok manusia yang telah bersyahadat yakni sekte para pengaku pengikut Salafush Sholeh dengan sekte para pengaku pengikut Imam Sayyidina Ali ra.



Kepala Universitas Darul Hadits Dammaj, Yaman, Syeikh al-Hajuri Yahya, mengatakan bahwa mereka  berjihad terhadap Syiah Rafida al Houti



Benarkah Syiah yang menyerang Darul Hadits Dammaj adalah Syiah Rafidhoh ?



Dari situs http://sunniy.wordpress.com/2011/12/02/inilah-dia-suku-houthi-syiah-zaidi-yang-menyerang-mahad-darul-hadits-dammaj/ didapat keterangan bahwa  Syiah yang menyerang adalah Syiah Zaidiyah



Ulama Ibnu Taimiyah berpendapat tentang Imam Zaid (pendiri sekte Syiah Zaidiyah) bahwa beliau menganut ajaran Ahlu Sunnah, sebagaimana ucapannya: "Tidak semua keturunan Fatimah itu diharamkan dari api Neraka, sebab diantara mereka ada yang baik dan ada pula yang buruk, dan nampaknya mayoritas yang buruk dari keturunan Fatimah adalah dari kalangan Syi’ah Rafidah. Adapun Syi’ah Zaidiyah yang diprakarsai oleh imam Zaid bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib dan keturunan Fatimah yang baik-baik, mereka ini adalah Ahlu Sunnah dan mereka mengakui kepemimpinan Abu Bakar dan Umar, sebab mereka tidak bermasalah (tidak mengkafirkan) khalifah Abu Bakar dan Umar".



Senada dengan pandangan ibnu Taimiyah, syekh Mahmud Syukri al-Alusi juga menegaskan: "Sesungguhnya imam-imam Ahlu Bait termasuk imam Zaid hakikatnya adalah beraqidah Ahlu Sunnah. Sebab mereka mengikut jejak Ahlu Sunnah dan respek kepada dakwah mereka. Dan para imam Syi’ah pun sejalan dengan Ahlu Sunnah, bagaimana tidak, imam Abu Hanifah dan imam Malik dan imam lainnya, merekapun belajar dari para imam mereka"

Sumber: http://dr-kamaluddin-nurdin.blogspot.com/2010/05/aliran-aliran-syiah-zaidiyah.html



Dalam hal ini kami tidaklah memihak salah satu sekte manapun namun kita bisa bayangkan bagaimana pendapat kaum non muslim terhadap manusia-manusia yang telah bersyahadat.



Andaikan semua itu karena kepentingan atau kekuasaan, hal itu seharusnya tidak terjadi jika kedua sekte tersebut memahami Al Qur'an dan As Sunnah dengan baik dan benar.



Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  bersabda, “Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takuti atas kalian, tetapi aku takut pada kalian dibukakannya dunia bagi kalian sebagaimana telah dibuka bagi umat sebelum kalian. Kemudian kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan menghancurkan kalian sebagaimana telah menghancurkan mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi)



Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran”. (HR Muslim).



Al-Bukhari meriwayatkan dalam bab “Pengutusan Ali dan Khalid bin Walid ke Negeri Yaman”: Seorang laki-laki berdiri seraya berkata, “Ya Rasulullah, takutlah kepada Allah! (Bertindaklah secara adil!).” Jawab Nabi Shallallahu alaihi wasallam: “Celakalah engkau, bukankah aku orang yang paling berhak dari penduduk bumi ini untuk takut kepada Allah?!” Mendengar itu Khalid berkata: “Ya Rasulullah, izinkan aku memenggal lehernya!” Jawab Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam: “Tidak, barangkali ia mengerjakan shalat.”



Imam Al-’Asqallani dalam kitab Al-Ishabah di bagian biografi Sarhuq si Munafik, yaitu ketika ia dihadapkan untuk dibunuh, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bertanya: “Apakah ia mengerjakah shalat?” Jawab mereka: “Hanya bila dilihat orang.” Sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam: “Sungguh aku dilarang membunuh orang yang menegakkan shalat!”



"Peperangan" tidak akan timbul jika tidak ada penyebabnya, pastilah semua itu diwali dengan saling menyakiti di antara kedua sekte tersebut.



Berdasarkan informasi yang kami peroleh, Yaman Utara, tepatnya propinsi So'dah sejak lama didiami  oleh sekte Syiah kaum Sayyid Al Houti dan kaum Sunni bermazhab Imam Syafi'i yakni kaum Sayyid Al Ahdal dan kaum-kaum lainnya.



Kaum Sayyid (sadah) Al Hutsi berikut Qobail Syimaliyyin (Syimal panggilan Qobilah Yaman Utara) memusuhi Darul Hadits itu dikarenakan ulama Muqbil bin Hadi Al Wadi'i rohimahulloh pendatang baru (1978) di So'dah dan menyulut api permusuhan dengan menyebarkan pemahamannya  dan ini berlangsung lama, sedangkan Zaidiyyah tidak terima apa yang disebarkan oleh Salafiyyin karena banyak fatwa-fatwa Salafiyyin takfir, tabdi' pada mereka, namun bagaimanapun kejadian ini sudah berlangsung lama. Pada tragedi kali ini, kami tidak mengetahui apa penyebab  sebenarnya hingga terjadi "peperangan" tersebut.



Namun bagaimanapun "buah" dari Universitas Darul Hadits tampaknya adalah menghasilkan muslim yang "keras" , muslim yang tidak dapat mengelola kebencian terhadap kaum muslim yang tidak sepemahaman dengan mereka. Boleh jadi disebabkan indoktrinisasi ulama panutan mereka seperti ulama Ibnu Taimiyyah bahwa pemahaman yang disampaikannya adalah pemahaman Salafush Sholeh mengakibatkan mereka merasa bahwa pemahaman mereka yang pasti benar. Padahal apa yang disampaikan oleh ulama-ulama mereka adalah pemahaman mereka sendiri.



Memang  ulama mereka membaca Al Qur’an , Tafsir bil Matsur, Hadits Shohih, Sunan, Musnad, lalu ulama mereka pun berjtihad dengan pendapat mereka. Apa yang ulama mereka katakan tentang kitab-kitab tersebut, pada hakikatnya adalah hasil ijtihad dan ra’yu ulama mereka sendiri. Sumbernya memang Al Quran dan As Sunnah, tapi apa yang ulama-ulama mereka sampaikan semata-mata lahir dari kepala mereka sendiri. Setiap upaya pemahaman bisa benar dan bisa pula salah. Kemungkinan salahnya semakin besar jika yang melakukan upaya pemahaman (ijtihad) tidak dikenal oleh jumhur ulama berkompetensi sebagai Imam Mujtahid Mutlak.



Kesalahpahaman besar telah terjadi ketika ulama-ulama mereka mengatakan bahwa apa yang mereka pahami dan sampaikan adalah pemahaman Salafush Sholeh. Jika apa yang ulama mereka pahami dan sampaikan sesuai dengan pemahaman Salafush Sholeh tentu tidaklah masalah namun ketika apa yang ulama mereka pahami dan sampaikan tidak sesuai dengan pemahaman sebenarnya Salafush Sholeh maka pada hakikatnya ini termasuk fitnah terhadap para Salafush Sholeh. Fitnah akhir zaman.



Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan nasehat kepada kaum muslim bila telah terjadi fitnah antara lain



Diriwayatkan dari Ibnu Abi al-Shoif dalam kitab Fadhoil al-Yaman, dari Abu Dzar al-Ghifari, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Kalau terjadi fitnah pergilah kamu ke negeri Yaman karena disana banyak terdapat keberkahan’



Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah al-Anshari, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Dua pertiga keberkahan dunia akan tertumpah ke negeri Yaman. Barang siapa yang akan lari dari fitnah, pergilah ke negeri Yaman, Sesungguhnya di sana tempat beribadah’



Abu Said al-Khudri ra meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ‘Pergilah kalian ke Yaman jika terjadi fitnah, karena kaumnya mempunyai sifat kasih sayang dan buminya mempunyai keberkahan dan beribadat di dalamnya mendatangkan pahala yang banyak’



Abu Musa al-Asy’ari meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ‘Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai-Nya dan mereka mencintai Allah. Bersabda Nabi shallallahu alaihi wasallam : mereka adalah kaummu Ya Abu Musa, orang-orang Yaman’.



Firman Allah ta’ala yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Ma’iadah [5]:54)



Dari Jabir, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya mengenai ayat tersebut, maka Rasul menjawab, ‘Mereka adalah ahlu Yaman dari suku Kindah, Sukun dan Tajib’.



Ibnu Jarir meriwayatkan, ketika dibacakan tentang ayat tersebut di depan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau berkata, ‘Kaummu wahai Abu Musa, orang-orang Yaman’.



Dalam kitab Fath al-Qadir, Ibnu Jarir meriwayat dari Suraikh bin Ubaid, ketika turun ayat 54 surat al-Maidah, Umar berkata, ‘Saya dan kaum saya wahai Rasulullah’. Rasul menjawab, ‘Bukan, tetapi ini untuk dia dan kaumnya, yakni Abu Musa al-Asy’ari’.



Para Habib dan para Sayyid , keturunan cucu Rasulullah, pada saat ini merubah kiblat ilmu ke para ulama Hadramaut, Yaman



"Kekerasan" dari apa yang dihasilkan Universitas Darrul Hadits Dammaj dapat kita pelajari dari perilaku-perilaku diantara mereka para pengaku pengikut pemahaman Salafush Sholeh sebagaimana yang terlukiskan dalam tulisan pada

http://isnad.net/media/Muhammad_Sewed_di_Gugat.pdf

http://isnad.net/?dl_name=kumal-kumal-dzul-akmal.pdf

http://isnad.net/dialog-luqman-hizbi-firanda-sururi

http://isnad.net/?dl_name=dzulqornain_yayasan.rar

http://isnad.net/media/dzul-akmal-undercover.pdf
 
Contohnya kami kutipkan dari http://isnad.net/?dl_name=kumal-kumal-dzul-akmal.pdf
 
*****awal kutipan****

Telah di ketahui bersama apa yang di lontarkan oleh Dzul Akmal (alias : Marhain) terhadap Syaikh Yahya hafidhohulloh dan beberapa ikhwah lain, terkhusus untuk ana secara pribadi, berupa lontaran-lontaran yang keluar dari orang yang sakit jiwanya, ndongkol hatinya, panas temperaturnya, dan tak terkontrol mulutnya, maka ketika ikhwah banyak yang meminta ana untuk memberi sedikit komentar akan kelacutannya, yang pada mulanya ana tidak begitu respon dengan hal itu –dikarenakan– sudah mutawatir akan siapa dan ada apa serta bagaimana si Dzul Kumal ini, baik dari sisi mulut besarnya, otak dan atau akhlaqnya yang tidak terpuji dimata orang-orang sholih- akhirnya dengan sedikit rasa malas anapun tulis risalah ini dengan judul “ KUMAL-KUMAL DZUL AKMAL’’ .

******akhir kutipan******



Padahal Ust Dzul Akmal juga ulama yang mengaku-aku mengikuti pemahaman Salafush Sholeh, sebagaimana contohnya terlukiskan pada http://sunniy.wordpress.com/2011/09/13/hadirilah-majelis-al-ustadz-dzul-akmal-di-kota-jambi-17-18-september-2011/



Mereka tuliskan 10 keistimewaan Darul Hadits Dammaj, http://isnad.net/keistimewaan-darul-hadits-dammaj

Mereka tuliskan kurikulum yang diajarkan http://isnad.net/apa-yang-diajarkan-di-darul-hadits-dammaj

Apakah yang tidak di ajarkan pada Darul Hadits Dammaj ?



Hampir kebanyakan pondok pesantren modern tidak mengajarkan bagaimana cara (tharikat) memperjalankan diri kepada Allah ta'ala



Ilmu yang banyak tidak menjamin dekat kepada Allah Azza wa Jalla sebagaimana yang telah diuraikan dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/04/semakin-jauh-darinya/



Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah hidayahnya, maka dia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh“.



Urutannya adalah Ilmu --> Amal ---> Akhlak



Manusia yang dekat Allah hanyalah 4 golongan manusia yakni para Nabi (yang utama Rasulullah), para Shiddiqin, para Syuhada, dan orang-orang sholeh atau manusia yang berakhlakul karimah.



Tidak sebagaimana ilmu-ilmu lainnya yang dipelajari dalam bangku sekolah yang hanya membutuhkan pemahaman secara ilmiah menggunakan akal pikiran / rasio / logika, dalam hal ilmu agama atau memahami Al Qur'an dan As Sunnah sangat dibutuhkan  pemahaman secara hikmah menggunakan akal qalbu atau hati. Pemahaman secara hikmah tergantung akan hidayah atau karunia dari Allah Azza wa Jalla.



Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya “Allah menganugerahkan al hikmah (pemahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya Ulil Albab yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)“. (QS Al Baqarah [2]:269 ).



Mereka yang dikarunia pemahaman secara hikmah dapat mempergunakan akal qalbu.

Hati tidak pernah berdusta. Firman Allah ta’ala yang artinya, ‘Fu’aad (hati) tidak pernah mendustai apa-apa yang dilihatnya’ (QS An Najm [53]:11).



Wabishah bin Ma’bad r.a. berkata: Saya datang kepada Rasulullah Saw., beliau bersabda, “Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebaikan?” Saya menjawab, “Benar.”Beliau bersabda, “Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa-apa yang menenteramkan jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah apa-apa yang mengusik jiwa dan meragukan hati, meskipun orang-orang memberi fatwa yang membenarkanmu.” Ini adalah hadits yang kami riwayatkan dari dua imam, yaitu Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Ad-Darami dengan sanad hasan



Nawas bin Sam’an r.a. meriwayatkan dari Nabi Saw., beliau bersabda, “Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah segala hal yang mengusik jiwamu dan engkau tidak suka jika orang lain melihatnya. “(Diriwayatkan oleh Imam Muslim).



Mereka yang dapat mempergunakan akal qalbu adalah mereka yang membersihkan hati (tazkiyatun nafs) yang berarti mengosongkan dari sifat sifat yang tercela (takhalli) kemudian mengisinya dengan sifat sifat yang terpuji (tahalli) yang selanjutnya beroleh kenyataan Tuhan (tajjalli) atau mencapai muslim yang berma'rifat atau melihat Rabb dengan hatinya.



Manusia terhalang  atau menghijabi dirinya sehingga tidak dapat  melihat Rabb dengan hatinya adalah karena dosa mereka. Setiap dosa merupakan bintik hitam hati (ketiadaan cahaya), sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada hati Ketika bintik hitam memenuhi hati sehingga terhalang (terhijab) dari melihat Allah.  Inilah yang dinamakan buta mata hati.



Sebagaimana firman Allah ta’ala  yang artinya,

Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS Al Isra 17 : 72)

maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (al Hajj 22 : 46)



Mereka yang telah berma'rifat, bertemu dan berkomunikasi dengan Allah Azza wa Jalla dibelakang tabir/hijab cahaya dan dipahami oleh qalbu sehingga dapat memahami cahayaNya/petunjukNya atau memahami segala firmanNya atau dapat memahami Al Qur'an dan As Sunnah.



Diriwayatkan dari Abu Musa al-‘Asy’ari:

قَامَ فِيْنَا رَسُوْلُ اللهِِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَنَامُ وَلاَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ يَخْفَضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ. يَرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلَ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ وَعَمَلَ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ حِجَابُهُ النُّوْرُ. (رواه مسلم)

Berdiri Rasulullah صلى الله عليه وسلم di depan kami dengan menyampaikan lima kalimat. Beliau berkata: “Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak layak bagi-Nya tidur, menurunkan timbangan dan mengangkatnya, diangkat kepadanya amalan malam sebelum amalan siang, dan amalan siang Sebelum amalan malam, dan hijab-Nya adalah cahaya. (HR. Muslim)



وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلاَّ وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولاً فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ.

(“Dan tidak mungkin bagi seorang manusia bahwa Allah berkata dengannya kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizinNya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana). (HR. Bukhari-Muslim).



Jadi pemahaman secara hikmah diperoleh dengan memperjalankan diri hingga sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla.



Pondok Pesantren Traditional (Salafiyyah), Kyai mengajarkan ilmu agama langsung kepada santri dengan cara sorogan (individual) dan bandongan (kelompok), tidak ada penjenjangan belajar, pengajaran berdasarkan kompetensi santri (sistem berbasis kompetensi). Kyai memiliki otoritas besar dan mutlak ditaati, serta kebanyakan tidak memberikan ijazah sebagai tanda keberhasilan belajar. Bahkan santri "bekerja" atau membantu Kyai dalam kehidupan sehari-hari seperti mencangkul sawah, mengurus kebun, kolam ikan dan lain sebagainya.



Para Kyai pada hakikatnya membantu, membimbing,  menghantarkan santri menuju kepada Allah sedangkan semuanya terpulang pada kemauan dan upaya santri memperjalankan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla. Para Kyai  mempunyai kompetensi untuk mengetahui perjalanan ruhani para santrinya.



Rasulullah mengkiaskanya "aku mendengar derap sandalmu di dalam surga" (HR Muslim 4497)



Selengkapnya telah kami uraikan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/09/29/derap-sandalmu/



Kesimpulan kami sebagian besar pondok pesantren modern memang berhasil mencetak ulama (ahlli ilmu) namun belum tentu alim ulama atau ulama yang sholeh, ulama yang berakhlakul karimah, ulama yang telah mencapai Ihsan, ulama yang telah berma'rifat.



Cara / Jalan / Thariqat untuk mencapai ulama yang Ihsan atau berma'rifat adalah dengan menjalankan tasawuf dalam Islam.



Tasawuf hanyalah sebuah istilah. Memang istilah ini ditemukan dalam keyakinan kaum non muslim dan semua sepakat bahwa tasawuf adalah istilah untuk cara/jalan mengenal atau mendekatkan diri kepada Tuhan. Tasawuf dalam Islam adalah thariqat (jalan) untuk mencapai muslim yang Ihsan atau muslim yang berakhlakul karimah. Sejak dahulu kala di perguruan tinggi Islam, tasawuf adalah pendidikan akhlak.



Ahmad Shodiq, MA-Dosen Akhlak & Tasawuf, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menceritakan kisah sedih pendidikan akhlak dalam sistem pendidikan. Ia merupakan dilema, antara jauhnya standar akhlak menurut kualitas hidup sufi, dengan angkuhnya sistem pendidikan. Dilema sistemik ini dipersedih oleh fakta bahwa para gurupun ternyata jauh dari standar akhlak, dalam sebuah ruang kelas, dimana para murid hanya mencari coretan nilai, atau sebatas titik absensi. Selengkapnya dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/



Universitas Darul Hadits dan kebanyakan pondok pesantren modern hanya mempelajari perkara syariat. Padahal para pemimpin ijtihad kaum muslim (Imam Mujtahid Mutlak) alias Imam Mazhab yang empat telah memperingatkan kita bahwa janganlah hanya mendalami perkara syariat semata.



Imam Malik ra menyampaikan nasehat (yang artinya) “Dia yang sedang tasawuf tanpa mempelajari fikih (perkara syariat) rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia ., hanya dia siapa memadukan keduanya terjamin benar” .



Imam Syafi’i ra menyampaikan nasehat (yang artinya) ,”Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan)?”

[Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]



Ciri-ciri mereka yang menjalani tasawuf dan berhasil mencapai muslim yang Ihsan atau muslim berma'rifat, diistilahkan oleh Imam Syafi'i  ra adalah mereka yang merasakan "kelezatan takwa". Mereka yang mendapatkan kenikmatan bertemu dengan Tuhan,  kenikmatan yang dirasakan oleh muslim kebanyakan di akhirat kelak.



Diriwayatkan oleh Anas Ra, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata “….kesenanganku dijadikan dalam shalat”



Mereka yang dikatakan oleh Rasulullah sebagai "Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin“, “sholat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“. yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah



Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kalian apabila sholat maka sesungguhnya ia sedang bermunajat (bertemu) dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerti bagaimana bermunajat dengan Tuhan



Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya sembahyang (Sholat) itu memang berat kecuali bagi mereka yang khusyu’ yaitu mereka yang yakin akan berjumpa dengan Tuhan mereka, dan sesungguhnya mereka akan kembali kepadaNya”. (QS. Al-Baqarah 2 : 45).



Sholat adalah saat-saat utama bertemu dengan Allah Azza wa Jalla,



Pada hakikatnya dengan dzikrullah kita dapat memperjalankan diri kita kepada Allah.



Dalam suatu riwayat. ”Qoola a’liyy bin Abi Thalib: Qultu yaa Rosuulolloh ayyun thoriiqotin aqrobu ilallohi? Faqoola Rasullulohi: dzikrullahi”. artinya; “Ali Bin Abi Thalib berkata; “aku bertanya kepada Rasullulah, jalan/metode(Thariqot) apakah yang bisa mendekatkan diri kepada Allah? “Rasullulah menjawab; “dzikrulah.”



Dzikrullah yang memperjalankan diri kita agar sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla atau jalan (tharikat) menedekatkan diri kita kepada Allah Azza wa Jalla



Banyak dzikrullah dapat dilakukan setiap saat, setiap waktu, setiap detik , setiap detak jantung kita sebagaimana Ulil Albab “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS Ali Imran [3] : 191)



Dengan menjalankan tasawuf, mereka mencapai muslim yang ihsan, muslim yang berma'rifat, minimal mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau yang terbaik mereka yang dapat melihat Allah dengan hati maka mereka mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar hingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah sesuai dengan tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla



Rasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad).



Muslim yang berma'rifat tidak ada kekhawatiran dan tidak (pula) mereka bersedih hati menghadapi segala permasalahan hidup karena mereka tahu bahwa apapun permasalahan hidup yang dialami pada hakikatnya telah "disodorkan" oleh Allah Azza wa Jalla sehingga apapun yang telah disodorkanNya mereka hadapi dengan sikap dan perbuatan yang dicintaiNya pula.



Wassalam

DUKUNG PENDIRIAN MARKAS YGNI BANYUMAS-PROGRESS REPORT: DANA TERKUMPUL 25,6 JUTA DARI 350 JUTA-SELURUH DANA DARI BP_MAKMUR

Logo Baru YGNI Banyumas

Logo Baru YGNI Banyumas
Perubahan Logo Baru YGNI Banyumas